Beritabanten.com – Pemerintah Kota Tangerang Selatan mendorong pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga tampil sebagai pilar penting dalam menjaga adab, karakter dan ketahanan sosial generasi muda di tengah perubahan zaman.

Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Milad ke-25 Pesantren Al-Quraniyyah di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Minggu (9/8/2026).

Seperempat abad perjalanan Al-Quraniyyah menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya peran pesantren dalam membangun manusia, bukan sekadar mencetak generasi yang berilmu, tetapi juga memiliki akhlak dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie melihat pesantren memiliki posisi strategis dalam perjalanan pembangunan kota. Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya menghadirkan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi.

Di balik semua itu harus ada manusia yang mampu menjaga nilai, etika dan kehidupan sosial agar kemajuan tidak kehilangan arah.

Pesantren, dalam konteks itu, memiliki kekuatan yang khas. Pendidikan yang berlangsung di dalamnya tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kebiasaan, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, kepedulian terhadap sesama serta tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting bagi Tangerang Selatan yang terus tumbuh menjadi kota dengan kehidupan masyarakat yang dinamis dan beragam.

Arus informasi yang begitu cepat juga menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda. Teknologi membuka kesempatan yang luas untuk belajar, tetapi pada saat yang sama membawa berbagai informasi dan budaya yang tidak semuanya sesuai dengan nilai kehidupan masyarakat.

Karena itu, pemerintah melihat pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan perkembangan zaman.

Pesantren dapat mengambil ruang penting di sana. Al-Qur’an tidak hanya diajarkan untuk dibaca dan dihafalkan, tetapi nilai-nilainya diharapkan hadir dalam cara berpikir, bertutur kata, mengambil keputusan dan memperlakukan orang lain.

Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah KH Muhammad Sobron Zayyan, MA, menyampaikan tausiyah dalam rangkaian Milad ke-25 Pesantren Al-Quraniyyah. (Dok; Al-Qurainyyah)

Adab akhirnya menjadi kata kunci.

Sebab kecerdasan tanpa adab dapat kehilangan arah. Kemampuan tanpa tanggung jawab dapat menjadi persoalan. Sebaliknya, ilmu yang dibangun di atas akhlak dapat menjadi kekuatan untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Semangat itulah yang membuat keberadaan pesantren memiliki arti strategis bagi pembangunan Tangsel. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam membentuk karakter generasi muda.

Dibutuhkan keluarga, sekolah, pesantren, tokoh agama, organisasi masyarakat dan seluruh elemen warga untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.

Pengalaman Tangerang Selatan menghadapi dinamika sosial pada Agustus 2025 juga menjadi gambaran penting. Di tengah situasi nasional yang sempat memanas, berbagai elemen masyarakat bersama pemerintah dan aparat berupaya menjaga agar suasana di Tangsel tetap kondusif.

Kondusivitas tersebut tentu bukan hasil kerja satu pihak. Namun, keberadaan tokoh agama dan lembaga pendidikan keagamaan menjadi bagian dari kekuatan sosial yang ikut menjaga masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, mengedepankan dialog dan tetap merawat persaudaraan.

Dalam konteks tersebut, pesantren tidak hanya berbicara tentang pendidikan di dalam lingkungan pesantren. Pesantren juga memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut menjaga kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Nilai kesabaran, gotong royong, toleransi, kepedulian dan penghormatan terhadap perbedaan merupakan modal sosial yang sangat dibutuhkan sebuah kota yang terus berkembang.

Milad ke-25 Al-Quraniyyah pun tidak semestinya berhenti sebagai perayaan usia. Momentum tersebut dapat menjadi penanda bahwa perjuangan membangun karakter generasi membutuhkan waktu panjang dan kesinambungan.

Selama 25 tahun, Al-Quraniyyah telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat Tangsel. Tantangan berikutnya adalah bagaimana nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren mampu keluar dari ruang kelas, masjid dan asrama untuk menjadi energi positif di tengah masyarakat.

Pimpinan Pesantren Al-Quraniyyah KH Muhammad Sobron Zayyan, MA, turut memberikan tausiyah dalam rangkaian kegiatan tersebut. Sementara Ustaz Abdul Somad hadir menyampaikan pesan keagamaan di hadapan para santri dan tamu undangan.

Kehadiran para ulama, pengasuh pesantren, santri dan masyarakat dalam peringatan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan karakter merupakan tanggung jawab bersama.

Pemkot Tangsel pun berkepentingan memastikan pesantren terus tumbuh sebagai mitra dalam membangun kualitas manusia. Bukan untuk menggantikan peran sekolah atau keluarga, melainkan memperkuat ekosistem pendidikan yang menempatkan ilmu, iman dan adab dalam satu kesatuan.

Sebab ukuran keberhasilan pembangunan sebuah kota pada akhirnya bukan hanya berapa banyak gedung yang berdiri atau seberapa cepat roda ekonomi bergerak. Ada ukuran yang jauh lebih mendasar: apakah generasinya tumbuh menjadi manusia yang mampu menggunakan kemajuan dengan bijaksana.

Ustaz Abdul Somad menyampaikan pesan dan tausiyah di hadapan para santri serta tamu undangan dalam peringatan Milad ke-25 Pesantren Al-Quraniyyah.

Di situlah pesantren menemukan peran strategisnya.

Pesantren menjadi tempat generasi muda belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, kebebasan harus disertai tanggung jawab, dan ilmu harus melahirkan kerendahan hati.

Bagi Tangerang Selatan, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang berada di tengah masyarakat. Pesantren adalah salah satu benteng moral yang dapat membantu menjaga wajah kota agar tetap maju tanpa kehilangan adab.

Milad ke-25 Al-Quraniyyah menjadi pengingat bahwa membangun Tangsel bukan hanya pekerjaan pemerintah. Ada nilai yang harus dijaga bersama, ada karakter yang harus diwariskan, dan ada generasi yang harus dipersiapkan.

Jika pesantren, pemerintah, keluarga dan masyarakat berjalan dalam satu semangat, maka kemajuan Tangsel tidak hanya melahirkan kota yang modern, tetapi juga masyarakat yang beradab.

Dan dari sanalah masa depan Tangsel seharusnya dibangun: maju dalam peradaban, kuat dalam karakter, serta tetap menyala dengan cahaya nilai-nilai Al-Qur’an. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com