Beritabanten.com – Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) terus melakukan berbagai upaya untuk menekan angka stunting. Salah satunya melalui Program SIGAP Anak Sehat 2026 yang menyasar 60 balita di Kecamatan Serpong.
Program tersebut resmi dimulai melalui kick off yang digelar di Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Senin (10/8/2026).
Dalam program ini, enam Puskesmas di Kecamatan Serpong dilibatkan. Masing-masing Puskesmas memilih 10 balita sebagai sasaran intervensi, terutama anak yang mengalami persoalan gizi dan diupayakan berusia di bawah dua tahun.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, penanganan stunting harus dilakukan sejak anak masih berada pada usia dini. Pemenuhan kebutuhan gizi menjadi salah satu hal penting untuk memastikan tumbuh kembang anak berjalan secara optimal.
Benyamin mengaku membayangkan kondisi anak-anak yang menjadi sasaran program tersebut ketika mereka memasuki usia 20 tahun pada 2045.
“Yang pertama saya membayangkan mereka usia 20 tahun tahun 2045. Kalau dari sekarang tidak kita intervensi makanannya, paling tidak supaya seimbang antara tinggi badan, umur dengan berat badannya, ya itu harus kita intervensi dari sekarang,” ujar Benyamin.
Menurutnya, persoalan gizi pada anak tidak hanya berdampak pada pertumbuhan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan mental dan kemampuan berpikir.
“Rata-rata memang ini sebuah fenomena anak-anak itu, batita itu susah dikasih makan, tapi kan ini akan memengaruhi pertumbuhan, bukan saja fisik tapi juga mental, pikiran dan lainnya,” katanya.
Benyamin menjelaskan, Kecamatan Serpong dipilih sebagai lokasi awal pelaksanaan program karena memiliki data anak stunting yang relatif tinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Tangsel.
“Sekarang ini dipilih Kecamatan Serpong karena paling banyak data anak stunting untuk se-Tangerang Selatan. Serpong lumayan tinggi,” ungkapnya.
Program SIGAP Anak Sehat 2026 akan berlangsung selama 56 hari. Pelaksanaannya mendapat dukungan BUMN melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), di antaranya PT Telkom Indonesia wilayah Banten, Srikandi Telkom Group dan Danantara Indonesia.
Selama program berlangsung, balita sasaran mendapatkan makanan tambahan berupa makanan padat dengan komposisi karbohidrat, protein, sayuran dan buah.
Selain pemberian makanan tambahan, orang tua juga mendapatkan edukasi dari nutrisionis di masing-masing Puskesmas terkait pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Tangsel Lilis Suryani mengatakan, balita yang dipilih merupakan anak yang mengalami persoalan gizi, seperti berat badan kurang, gizi kurang maupun berat badan yang tidak mengalami kenaikan.
“Ini di wilayah Kecamatan Serpong. Ini kan ada enam Puskesmas. Jadi satu Puskesmas kita pilih 10 balita yang diusahakan sih di bawah dua tahun,” kata Lilis.
Lilis menyebutkan, prevalensi stunting di Kecamatan Serpong mencapai 1,45 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan wilayah kecamatan lainnya di Tangsel.
Secara agregat, terdapat 185 balita yang tercatat mengalami stunting di Kecamatan Serpong. Sedangkan wilayah dengan angka tertinggi berada di Kelurahan Lengkong Wetan.
Untuk memastikan intervensi berjalan sesuai sasaran, Dinkes Tangsel menggunakan aplikasi Stunting Hub. Pemberian makanan tambahan akan dipantau setiap hari oleh kader Puskesmas.
Balita yang menerima makanan akan didokumentasikan dan diunggah ke dalam aplikasi. Sebelum intervensi dimulai, balita juga akan diukur berat dan tinggi badannya sebagai data awal.
“Jadi nanti pemantauan pemberian PMT ini tiap hari difoto balitanya, di-upload ke dalam aplikasi itu. Kemudian nanti ada pengukuran sebelum diberikan PMT. Nanti mereka diukur berat badannya, tinggi badannya, semuanya,” terang Lilis.
Pemantauan dilakukan setiap bulan untuk mengetahui perkembangan kondisi masing-masing anak. Setelah program berlangsung selama 56 hari, hasil intervensi akan dievaluasi, termasuk melihat perubahan berat badan balita.
Upaya penurunan angka stunting di Tangsel tidak hanya membutuhkan intervensi dalam jangka pendek, tetapi juga pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Pemberian makanan tambahan dan edukasi kepada orang tua diharapkan dapat membantu memperbaiki pola pemenuhan gizi anak, sehingga upaya pencegahan stunting dapat terus dilakukan di lingkungan keluarga.
Kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha dan masyarakat juga dinilai penting untuk memperkuat program penanganan stunting sekaligus mempercepat penurunan angka stunting di Tangsel.
Benyamin mengapresiasi kolaborasi yang terbangun dalam pelaksanaan program tersebut.
“Makanya ini kita intervensi melalui program pengentasan stunting. Alhamdulillah kolaborasi antara Dinkes, Telkom Banten dan juga Srikandinya,” tuturnya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan