Beritabanten.com – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al Falah KPP Pratama Serpong menjelang pelaksanaan Salat Jumat. Di rumah ibadah itu, ratusan jemaah larut dalam keheningan mendengarkan khutbah yang disampaikan Ustaz Sopyan.
Melalui tema tentang kejujuran, ia mengajak setiap muslim merenungkan kembali makna amanah dalam kehidupan.
Kejujuran menjadi benang merah khutbah siang itu. Sebuah nilai yang sederhana untuk diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dipertahankan ketika seseorang memegang amanah, terlebih amanah yang menyangkut kepentingan banyak orang.
Ustaz Sopyan mengingatkan bahwa setiap jabatan pada hakikatnya adalah titipan Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak ada ruang yang benar-benar tersembunyi dari pengawasan-Nya.
Pesan itu dikuatkan dengan firman Allah SWT, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16).
Karena itu, kejujuran tidak lahir semata-mata karena adanya pengawasan manusia, melainkan karena keyakinan bahwa Allah SWT selalu mengetahui setiap niat, ucapan, dan perbuatan hamba-Nya.
Rasulullah SAW pun menegaskan pentingnya sifat tersebut dalam sabdanya, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga. Seseorang senantiasa berlaku jujur hingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah Kejujuran Khalifah Umar bin Khattab
Untuk memperjelas makna itu, Ustaz Sopyan mengisahkan teladan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Seorang gadis miskin menolak mencampurkan susu dengan air meski tidak ada yang melihat.
Ketika ibunya mengatakan Umar tidak akan mengetahuinya, gadis itu menjawab bahwa jika Umar tidak melihat, Allah tetap melihat. Kisah itu menjadi pelajaran bahwa kejujuran berawal dari hati yang selalu merasa diawasi oleh Allah.
Pesan tersebut terasa begitu dekat dengan kehidupan para jemaah. Bagi mereka yang setiap hari mengemban amanah sebagai pelayan masyarakat, kejujuran bukan hanya tuntutan moral, melainkan juga bagian dari ibadah. Setiap keputusan, setiap pekerjaan, hingga hal-hal yang tampak kecil di mata manusia akan menjadi catatan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Al-Qur’an juga memerintahkan orang-orang beriman agar selalu berpihak kepada kebenaran. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Ayat ini menjadi penegasan bahwa kejujuran adalah jalan yang mengantarkan seseorang kepada ketakwaan, sekaligus membangun kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ustaz Sopyan mengajak seluruh jemaah menjadikan kejujuran sebagai kebiasaan dalam setiap aktivitas, mulai dari berkata apa adanya, bekerja secara profesional, menjaga amanah, hingga tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
Nilai-nilai itulah yang akan melahirkan integritas dan menjadi bekal keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Bebas Hutang dan Penindasan
Menjelang akhir khutbah, Ustaz Sopyan memanjatkan doa agar seluruh jemaah dijauhkan dari kelemahan, kemalasan, sifat kikir, lilitan utang, dan penindasan manusia. Doa yang diajarkan Rasulullah SAW itu diaminkan dengan penuh harap oleh para jemaah.
Keheningan kemudian semakin terasa ketika lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an mengalun dengan tartil. Bacaan yang merdu itu seolah menjadi penutup yang menyempurnakan seluruh pesan khutbah.
Setiap ayat mengajak hati untuk kembali mengingat pentingnya menjaga ketakwaan kepada Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan.
Firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102 menjadi penutup yang sarat makna, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
Pesan tentang takwa itu seakan mengikat seluruh rangkaian khutbah. Kejujuran, amanah, dan integritas bukan sekadar nilai yang terlihat dalam hubungan antarmanusia, tetapi juga bagian dari ketakwaan seorang hamba kepada Allah SWT.
Ketika saf-saf salat mulai dirapatkan, para jemaah membawa pulang lebih dari sekadar rangkaian ibadah Jumat. Mereka membawa pesan yang terus menggema dalam hati, bahwa kejujuran merupakan bagian dari ketakwaan, sementara setiap amanah, sekecil apa pun, pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan