Beritabanten.com – Filantropi merupakan nilai universal yang tumbuh di berbagai peradaban sebagai wujud kepedulian dan solidaritas antarsesama. Dalam Islam, semangat berbagi memiliki dimensi yang lebih mendalam karena didasarkan pada keimanan dan menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Pimpinan BAZNAS Kota Tangerang Selatan, KH Taufik Setyaudin, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Kota Tangerang Selatan di Kampung Gowes, Depok, Jawa Barat, Rabu (5/8/2026) malam.
Menurut Taufik, filantropi Islam tidak sekadar aktivitas sosial, tetapi merupakan manifestasi keimanan seorang muslim.
“Filantropi adalah dorongan universal yang dimiliki setiap manusia. Namun dalam Islam, seseorang memberi bukan hanya karena rasa kemanusiaan, tetapi juga karena iman,’ ujarnya.
“Menunaikan zakat, infak, sedekah, dan wakaf merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kepedulian kepada sesama,” dia tambahkan.
Ia menjelaskan, Islam memiliki instrumen filantropi yang lengkap, mulai dari zakat, infak, sedekah, wakaf, hingga berbagai dana sosial keagamaan lainnya.
Seluruh instrumen tersebut memiliki peran strategis dalam mengurangi kemiskinan, memperkuat ekonomi umat, meningkatkan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, serta mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Menurut Taufik, perkembangan filantropi Islam di Indonesia menunjukkan tren yang terus meningkat.
Kesadaran masyarakat untuk menyalurkan zakat dan donasi melalui lembaga resmi semakin baik, didukung oleh pemanfaatan teknologi digital yang membuat penghimpunan dan pendistribusian dana semakin transparan, akuntabel, dan mudah diakses.
Ia menilai potensi filantropi Islam di Indonesia masih sangat besar dan perlu terus dioptimalkan agar memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Secara khusus, Taufik menyebut Kota Tangerang Selatan memiliki peluang besar menjadi lokus pengembangan filantropi Islam di kawasan perkotaan.
Sebagai kota penyangga Jakarta dengan tingkat pendidikan, aktivitas ekonomi, dan jumlah masyarakat kelas menengah yang terus berkembang, Tangsel memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun gerakan filantropi yang modern dan profesional.
Menurutnya, ekosistem filantropi Islam di Tangerang Selatan tidak hanya dibangun oleh BAZNAS, tetapi juga melibatkan Lembaga Amil Zakat (LAZ), pemerintah daerah, MUI, masjid, lembaga pendidikan, dunia usaha, serta komunitas masyarakat.
Sinergi antarpemangku kepentingan tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas penghimpunan dan pendayagunaan zakat, infak, sedekah, wakaf, serta dana sosial keagamaan lainnya agar memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, di antaranya meningkatkan literasi zakat masyarakat, memperluas jumlah muzaki, memperkuat kepercayaan publik melalui tata kelola yang baik, serta mendorong inovasi digital dalam pelayanan filantropi.
Taufik berharap filantropi Islam ke depan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas memberi, tetapi juga menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu menciptakan kemandirian masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya peran ulama dan tokoh masyarakat dalam memperkuat budaya filantropi di tengah masyarakat.
Menurutnya, ulama memiliki posisi strategis untuk memberikan edukasi tentang pentingnya zakat, infak, sedekah, dan wakaf, sekaligus menjadi teladan dalam membangun kepedulian sosial.
“Ketika ulama, BAZNAS, LAZ, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat berjalan bersama, maka filantropi Islam akan menjadi kekuatan besar dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan membangun peradaban yang lebih berkeadilan,” tutup KH Taufik Setyaudin. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan