Beritabanten.com – Di saat musim kemarau membawa tantangan bagi sebagian sektor usaha, kondisi berbeda justru dirasakan para perajin tirai sawit atau krey di Kabupaten Lebak.
Teriknya sinar matahari yang menyelimuti wilayah Banten dan sekitarnya menjadi berkah tersendiri karena permintaan tirai sawit melonjak tajam, membuat omzet para pelaku usaha mikro meningkat hingga dua kali lipat.
Di sejumlah sentra kerajinan di Rangkasbitung Timur, aktivitas para perajin terlihat semakin sibuk. Sejak pagi hingga sore, lembaran-lembaran krey dijemur sebelum dikirim ke berbagai daerah.
Pesanan terus berdatangan dari Serang, Cilegon, Jakarta, hingga wilayah penyangga ibu kota lainnya yang membutuhkan penutup bangunan untuk meredam panas matahari.
Salah seorang pengepul, Toto, mengaku permintaan tirai sawit meningkat signifikan selama musim kemarau.
Jika sebelumnya hanya mampu memasok sekitar seribu unit setiap pekan, kini jumlahnya melonjak menjadi sekitar dua ribu unit. Lonjakan tersebut turut mendongkrak omzet usaha dari sekitar Rp30 juta menjadi Rp60 juta dalam sepekan.
Kondisi serupa juga dirasakan pengepul lainnya, Timan. Ia menyebut peningkatan permintaan membuat omzet usahanya ikut melonjak hingga dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Pasar utama produk tirai sawit yang dipasoknya berasal dari wilayah Depok, Bogor, hingga Jakarta.
Di tingkat perajin, meningkatnya permintaan turut menghadirkan tambahan penghasilan. Rosad, salah seorang perajin di Rangkasbitung Timur, kini mampu memproduksi sekitar enam unit tirai sawit setiap hari.
Seluruh hasil produksinya langsung diserap pengepul sehingga memberikan pendapatan harian yang lebih stabil bagi keluarganya.
Bagi masyarakat sekitar perkebunan kelapa sawit, kerajinan tirai menjadi salah satu sumber ekonomi yang terus bertahan. Selain memanfaatkan bahan baku yang mudah diperoleh, proses pembuatannya juga mampu menyerap tenaga kerja lokal sehingga memberikan peluang usaha bagi warga di pedesaan.
Pemerintah Kabupaten Lebak melalui Dinas Koperasi dan UKM terus mendorong pengembangan usaha berbasis potensi lokal tersebut. Selain tirai sawit, masyarakat juga didorong memproduksi berbagai kerajinan lain seperti sapu lidi yang memiliki pasar cukup luas di wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.
Saat ini jumlah pelaku UMKM di Kabupaten Lebak telah mencapai lebih dari 172 ribu unit usaha. Keberadaan industri rumahan berbahan baku sawit dinilai tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran dan memperkuat perekonomian daerah.
Di tengah tantangan musim kemarau yang dirasakan berbagai sektor, kisah para perajin tirai sawit di Lebak menjadi bukti bahwa kreativitas memanfaatkan potensi lokal mampu menghadirkan peluang ekonomi baru. Ketika matahari bersinar lebih terik, roda usaha masyarakat justru berputar semakin cepat.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan