Beritabanten.com – Mundurnya Nanik S. Deyang dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) memunculkan perdebatan yang lebih luas dari sekadar pergantian seorang pejabat. Peristiwa tersebut menjadi cermin untuk melihat kembali bagaimana negara memilih dan menempatkan figur pada posisi strategis dengan tanggung jawab besar.

Nanik mengungkapkan dirinya mengalami tekanan hingga memutuskan mengganti nomor telepon lama. Ia juga menyampaikan bahwa setelah menjauh dari sumber tekanan tersebut, kondisi kesehatannya membaik. Terlepas dari aspek medis yang memerlukan penjelasan profesional, pengakuan itu menunjukkan bahwa jabatan publik dengan beban besar membutuhkan kesiapan mental, kemampuan kepemimpinan, serta daya tahan menghadapi tekanan.

Persoalan yang muncul kemudian bukan sekadar soal siapa yang mundur, melainkan bagaimana sistem memastikan seseorang yang menduduki jabatan penting benar-benar memiliki kapasitas yang sesuai dengan tuntutan pekerjaannya.

Dalam manajemen sumber daya manusia dikenal prinsip the right man in the right place, yakni menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat. Sebuah jabatan strategis tidak cukup hanya membutuhkan kepercayaan atau kedekatan politik, tetapi juga membutuhkan kecocokan antara kompetensi, pengalaman, karakter, dan tantangan yang akan dihadapi.

Konsep merit system dalam birokrasi modern juga menegaskan bahwa pengisian jabatan publik idealnya mempertimbangkan kualifikasi, kemampuan profesional, rekam jejak, serta kapasitas seseorang dalam menjalankan amanah.

Pemerintahan yang kuat tidak hanya dibangun oleh loyalitas, tetapi juga oleh kompetensi.

Dalam perspektif Islam terdapat prinsip Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā, yang bermakna Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa sebuah amanah harus diberikan dengan mempertimbangkan kemampuan orang yang menerimanya.

Jika dikaitkan dengan pemerintahan, jabatan besar bukan hanya bentuk kepercayaan, tetapi juga tanggung jawab yang membutuhkan kesiapan ilmu, pengalaman, kemampuan mengelola tekanan, dan ketahanan mental.

Apalagi posisi Kepala BGN bukanlah jabatan biasa. Lembaga tersebut berada di garis depan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program strategis pemerintah yang menyangkut kebutuhan jutaan masyarakat.

Tugas tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyusunan kebijakan, tetapi juga mengelola organisasi besar, membangun koordinasi lintas sektor, memastikan pengawasan berjalan, serta mempertanggungjawabkan program kepada publik.

Dari sinilah muncul pertanyaan penting: apakah beban jabatan yang diberikan sudah seimbang dengan kapasitas orang yang dipercaya untuk menjalankannya?

Dalam tradisi kepemimpinan, amanah bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab yang harus dipikul dengan kemampuan yang memadai. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut siap menerima jabatan, tetapi juga siap menghadapi konsekuensi dan tantangan yang melekat di dalamnya.

Pembekalan maupun kegiatan penyamaan visi bagi pejabat memang dapat membantu membangun soliditas. Namun, kualitas kepemimpinan sejatinya diuji bukan hanya dalam ruang pelatihan, melainkan ketika berhadapan langsung dengan tekanan politik, kritik masyarakat, persoalan internal organisasi, serta keputusan sulit.

Karena itu, kasus mundurnya Nanik Deyang perlu menjadi evaluasi bagi mekanisme pengisian jabatan strategis negara. Evaluasi tersebut bukan untuk mencari kesalahan individu,G membutuhkan lebih dari sekadar orang yang dipercaya. Program tersebut membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan ketangguhan untuk memastikan cita-cita besar pemerintah dapat berjalan sesuai har melainkan memastikan sistem mampu memilih figur yang paling siap menghadapi tanggung jawab besar.

Sebab program sebesar MBG membutuhkan lebih dari sekadar orang yang dipercaya. Program tersebut membutuhkan pemimpin yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan ketangguhan untuk memastikan cita-cita besar pemerintah dapat berjalan sesuai harapan masyarakat.

Pada akhirnya, mundurnya Nanik Deyang menjadi pengingat bahwa dalam membangun pemerintahan yang kuat, negara tidak cukup hanya mencari siapa yang bersedia menerima amanah. Yang jauh lebih penting adalah memastikan siapa yang paling mampu memikul amanah tersebut.(Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com