Beritabanten.com – Candaan Presiden Prabowo Subianto beberapa kali menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Tidak sedikit humor yang disampaikan dalam pidato atau acara resmi kemudian memicu perdebatan, kritik, bahkan kontroversi di media sosial. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan, mengapa candaan seorang presiden kini lebih mudah menimbulkan polemik dibandingkan sebelumnya?

Dalam komunikasi politik, humor memang kerap digunakan pemimpin untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan dengan masyarakat. Namun, efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh konteks, situasi sosial, serta cara publik menerima pesan tersebut. Di era digital, satu potongan video berdurasi beberapa detik dapat menyebar lebih cepat dibandingkan keseluruhan isi pidato.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori Context Collapse yang diperkenalkan danah boyd dan Alice Marwick. Teori ini menjelaskan bahwa satu pesan yang awalnya ditujukan kepada audiens tertentu akan dikonsumsi oleh publik yang sangat beragam. Akibatnya, candaan kehilangan konteks aslinya dan lebih mudah ditafsirkan secara berbeda oleh setiap kelompok masyarakat.

Selain itu, teori Affective Polarization menjelaskan bahwa respons publik sering kali dipengaruhi oleh kedekatan emosional terhadap tokoh politik. Pendukung cenderung menganggap candaan sebagai hal yang wajar, sementara pihak yang berseberangan lebih mudah melihatnya sebagai bentuk ketidakpekaan atau kesalahan komunikasi. Dalam kondisi seperti ini, humor tidak lagi dipandang sekadar hiburan, tetapi menjadi bagian dari kontestasi politik.

Dari sisi psikologi komunikasi, konsep Negativity Bias juga menjelaskan mengapa candaan kontroversial lebih cepat menjadi viral. Publik cenderung memberi perhatian lebih besar terhadap informasi yang dianggap negatif dibandingkan pesan positif. Algoritma media sosial kemudian memperkuat kondisi tersebut dengan mendorong konten yang memicu komentar, perdebatan, dan emosi.

Perspektif lain datang dari teori Meaning Management dalam komunikasi kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu menyampaikan pesan, tetapi juga memastikan makna pesan tersebut dipahami sesuai tujuan. Humor dapat menjadi sarana membangun kedekatan, tetapi juga berpotensi menimbulkan salah tafsir apabila disampaikan pada situasi yang kurang tepat.

Dalam situasi masyarakat yang menghadapi berbagai persoalan ekonomi maupun sosial, ruang penerimaan terhadap humor menjadi lebih sempit. Candaan yang dimaksudkan untuk mencairkan suasana dapat dipersepsikan berbeda ketika publik sedang berada dalam kondisi yang penuh tekanan. Karena itu, waktu penyampaian dan sensitivitas terhadap situasi publik menjadi faktor penting dalam komunikasi seorang pemimpin.

Pada akhirnya, setiap presiden memiliki gaya komunikasi yang berbeda, termasuk menggunakan humor dalam pidato. Namun, di era media sosial, setiap ucapan pejabat publik memiliki jangkauan yang jauh lebih luas dan berpotensi dimaknai secara beragam. Tantangan komunikasi politik saat ini bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memastikan pesan tersebut tidak kehilangan konteks ketika beredar di ruang digital. (Red

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com