Beritabanten.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut berhenti selama libur sekolah. Di tengah jeda tersebut, muncul pertanyaan satir di media sosial: apakah ada siswa yang benar-benar kelaparan atau jatuh sakit karena tidak menerima MBG selama beberapa pekan?
Pertanyaan itu terdengar menyindir, tetapi menyentuh persoalan mendasar: dasar urgensi program yang menelan anggaran negara dalam jumlah sangat besar.
Jika MBG dibangun atas asumsi adanya kondisi darurat gizi pada pelajar, maka muncul pertanyaan lanjutan: mengapa kebutuhan itu tampak “berhenti” ketika kalender pendidikan memasuki masa libur? Padahal, kebutuhan nutrisi tidak mengenal jeda waktu.
Libur sekolah dalam konteks ini kemudian dipandang sebagian pihak sebagai semacam “uji alamiah” terhadap konsistensi argumen kebijakan. Jika intervensi gizi memang krusial, seharusnya dampaknya tetap terlihat meski distribusi makanan dihentikan sementara.
Namun, tidak munculnya laporan kelaparan massal selama masa penghentian program juga tidak serta-merta membantah manfaat MBG. Bisa jadi, sebagian besar pelajar tetap mendapatkan asupan dari keluarga masing-masing. Di titik ini, perdebatan bergeser: apakah masalah utama sebenarnya terletak pada ketiadaan makan siang di sekolah, atau pada kondisi ekonomi keluarga dan kualitas gizi rumah tangga yang lebih luas?
Pemerintah sendiri sebelumnya memiliki variasi pendekatan terkait kesinambungan program. Dalam beberapa kesempatan, keberlanjutan asupan gizi sempat ditekankan agar manfaat program tidak terputus, meski dalam praktiknya pelaksanaan dapat berbeda pada masa libur.
Situasi ini membuka ruang pertanyaan berbasis data: bagaimana kondisi gizi penerima manfaat ketika program dihentikan sementara, dan apakah seluruh pelajar memang membutuhkan intervensi dengan skema yang sama?
Satir mengenai “MBG ikut libur” pada akhirnya tidak cukup dijawab dengan slogan atau reaksi emosional. Publik menuntut ukuran yang lebih konkret: bukti dampak, indikator kesehatan, dan evaluasi yang transparan.
Sebab pada akhirnya, program bernilai triliunan rupiah tidak hanya diuji oleh niat baik, tetapi oleh satu pertanyaan sederhana yang terus bergema: jika masalah gizinya tidak ikut libur, mengapa programnya bisa? (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan