Beritabanten.com – Mayoritas umat muslim di tanah air menyisakan kemeriahan pelaksanaan Shalat Jumat, tidak terkecuali di wilayah perkantoran. Ini jadi media paling efektif berbagi kisah kerja sembari makan siang.
Jemaah shalat Jumat Masjid Kantor Pajak Serpong bernama Maulana mengungkapkan dirinya biasa bertemu dengan teman kerja lebih lama selepas shalat jumat. Karena sekalian istirahat dan makan siang bersama temen kerja menyediakan kesempatan berbagi cerita.
“Saya biasa kontak-kontak sama teman bang,” katanya membuka pembicaraan, Jumat 1 Agustus 2025.
Kesempatan untuk berbagi cerita pada rekan kerja menjadikan dirinya bisa meluapkan sekaligus mencari solusi. Tidak hanya persoalan pekerjaan, bahkan sampai kepada masalah keluarga.
“Suasananya lebih cair bang dibandingkan dengan di kantor. Kan sambil makan, jika memungkinkan sambil ngopi juga. Itu juga kalau pekerjaan di kantor lagi senggang,” katanya memberi alasan.
Kebiasan berbagi cerita tersebut dilakukan tidak hanya dengan rekan kerja, bahakn dirinya mendapat teman dari kantor lain yang berdekatan dari masjid tersebut.
Dia menjelaskan, perbincangan dan guyonannya sebagai pelepas penat dari pekerjaan juga ada yang mendapat kesempatan pindah pekerjaan dari jejaring di tempat warung kopi.
“Ternyata temen saya bekerja di Sudirman juga menjadikan makan siang selepas juamtan itu bermanfaat. Ada yang mendapat kesempatan pekerjaan baru lebih menjanjikan dari perbincangan sederhana ketiak bareng makan siang,” beber dia.
Dia lalu mengutip Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat yang pernah mengungkapkan, bahwa andaikan tidak ada shalat jumat suasana kerja akan terasa lebih monoton. Bahkan katanya seperti robot yang mengikuti ritme jadual dan target pekerjaan.
“Kalau tidak salah Mas Komar deh, yang kin Ketua Dewan Pers bilang shalat jumatan perkantoran bermanfaat menurunkan tensi pekerjaan yang cendrung seperti robot,” kenang dia.
Perasaan menjadi terjebak pada rutinitas tersebut, dikatakan, sangat memungkinkan karena iklim kerja selaras dengan target pekerjaan yang kerap menghilangkan aspek kemanusiaan.
“Tidak salah juga sih, lawong pekerjaan kan untuk mencapai target. Tapi kita sering lupa bahwa kita ini manusia yang butuh canda dan tawa dalam mencari solusi,” demikian dia menutup. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan