Beritabanten.com – Uap hangat mengepul dari panci kukusan di sebuah lapak sederhana di Jalan Jurang Mangu Barat, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Senin (27/7/2026). Aroma ubi, singkong, jagung, telur, dan sukun kukus menguar ke udara, seolah menjadi penanda dimulainya aktivitas pagi warga sekitar.

Satu per satu pelanggan berdatangan. Ada yang baru mengantar anak ke sekolah, ada pula yang mampir sebelum berangkat bekerja. Mereka memilih aneka makanan kukus yang masih hangat untuk dibungkus sebagai menu sarapan. Suasana pagi di lapak itu terasa akrab, diwarnai sapaan singkat antara penjual dan pelanggan yang sebagian besar sudah saling mengenal.

Di atas meja dagangan, tumpukan ubi dan jagung kukus perlahan menyusut. Tak sampai satu jam, pembeli datang silih berganti. Menu tradisional yang dulu identik sebagai camilan kini justru menjadi pilihan banyak orang untuk mengawali hari dengan makanan yang lebih ringan dan minim minyak.

Tak sedikit pelanggan yang sudah hafal jam buka lapak Bang Dedy. Mereka datang tanpa perlu bertanya apakah dagangannya sudah tersedia. Sesekali terdengar permintaan menambah jagung atau ubi dalam satu bungkus. Bang Dedy melayani dengan cekatan sambil membuka tutup kukusan untuk mengambil makanan yang masih mengepulkan uap panas.

Bagi sebagian warga, sarapan dengan makanan kukus bukan hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjalani pola hidup sehat. Di tengah maraknya makanan cepat saji, lapak sederhana milik Bang Dedy justru menghadirkan pilihan kuliner tradisional yang tetap diminati berbagai kalangan.

Bang Dedy mengaku, ide membuka usaha tersebut berawal dari sang istri yang lebih dulu berjualan makanan kukus di kawasan Rempoa. Dari sana, ia melihat peluang karena semakin banyak masyarakat yang mencari menu sarapan sehat.

“Istri saya sudah lebih dulu berjualan di Rempoa. Banyak pelanggan yang menyampaikan kalau makanan kukus semakin diminati karena orang mulai mencari menu yang lebih sehat,” ujar Bang Dedy kepada Beritabanten.com.

Selama mendampingi aktivitas penjualan mulai pukul 07.00 hingga 08.00 WIB, tampak mayoritas pembeli membeli makanan untuk sarapan sebelum memulai aktivitas.

“Kebanyakan pelanggan habis mengantar anak sekolah atau sebelum berangkat kerja. Mereka membeli untuk sarapan di rumah atau dibawa ke tempat kerja,” katanya.

Usaha yang telah dirintis lebih dari satu tahun itu kini terus berkembang. Setiap hari Bang Dedy menjual telur, jagung, ubi, singkong, hingga sukun kukus dengan omzet yang mencapai sekitar Rp400 ribu per hari.

“Saya mulai berjualan pukul 05.30 WIB sampai sekitar pukul 08.00 WIB. Proses mengukus dimulai sejak pukul 03.00 dini hari supaya makanan tetap hangat dan segar saat dijual,” jelasnya.

Di balik ramainya pembeli, Bang Dedy mengaku masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga plastik kemasan. Menurutnya, harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp7.000 kini meningkat menjadi Rp10.000 per bungkus.

“Naik Rp3.000 memang terlihat kecil, tapi bagi pedagang tetap terasa. Kalau dihitung selama sebulan, tentu cukup memengaruhi biaya usaha meski dagangan sedang laris,” ungkapnya.

Selain harga kemasan, ia juga terus mencermati kemungkinan kenaikan harga bahan baku yang dipengaruhi biaya distribusi maupun faktor ekonomi lainnya.

“Saya tetap harus berhati-hati menghadapi kenaikan biaya. Bahkan kalau ada yang ingin menitipkan dagangan, sementara masih saya tahan dulu karena usaha ini masih dalam tahap berkembang,” tutup Bang Dedy. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com