Beritabanten.com – Pengiriman susu bubuk skim dari Belarus untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memunculkan perhatian terhadap kemampuan produksi susu nasional. Kerja sama senilai sekitar Rp1,2 triliun dengan target ekspor hingga 20 ribu ton sampai akhir 2026 itu dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan bagi program yang terus diperluas pemerintah.

Masuknya susu impor tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kapasitas produksi susu dalam negeri. Apakah koperasi susu dan industri persusuan nasional belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku untuk program berskala besar seperti MBG?

Selama ini, Indonesia memang masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu. Produksi susu segar dalam negeri belum mampu mengimbangi tingginya permintaan nasional akibat terbatasnya populasi sapi perah, produktivitas peternak yang masih rendah, serta kapasitas pengolahan yang belum optimal.

Di sisi lain, koperasi susu tetap menjadi tulang punggung penyediaan susu segar bagi industri dalam negeri. Namun kapasitas produksi yang dimiliki umumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang sudah berjalan sehingga belum sepenuhnya mampu mengakomodasi lonjakan permintaan akibat pelaksanaan Program MBG.

Dengan jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia, kebutuhan susu dalam program tersebut meningkat secara signifikan. Kondisi itu membuat pemerintah memerlukan tambahan pasokan dalam waktu relatif singkat agar distribusi makanan bergizi dapat berjalan sesuai target.

Karena itu, impor susu bubuk skim dari Belarus dapat dipandang sebagai langkah untuk menjaga kesinambungan pasokan selama produksi domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan. Kebijakan ini menjadi solusi jangka pendek agar pelaksanaan Program MBG tidak terganggu oleh keterbatasan bahan baku.

Meski demikian, sejumlah kalangan menilai kebijakan impor sebaiknya dibarengi strategi penguatan sektor persusuan nasional. Peningkatan populasi sapi perah, perbaikan produktivitas peternak, modernisasi koperasi, hingga pengembangan industri pengolahan susu dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Apabila kebutuhan susu terus meningkat tanpa diimbangi peningkatan produksi dalam negeri, ketergantungan terhadap pasokan impor berpotensi berlanjut. Sebaliknya, penguatan ekosistem persusuan nasional dapat menjadikan Program MBG sebagai penggerak pertumbuhan sektor peternakan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal.

Ke depan, tantangan pemerintah bukan hanya memastikan ketersediaan susu bagi Program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga memanfaatkan program tersebut sebagai momentum membangun kemandirian industri persusuan nasional. Dengan demikian, manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh para penerima program, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sektor peternakan Indonesia. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com