Beritabanten.com – Presiden Prabowo Subianto menarik perhatian publik saat menguji genteng berbahan sabut kelapa hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Kepresidenan, Kamis (6/8/2026). Genteng tersebut diuji langsung dengan cara dibanting dan diinjak untuk membuktikan ketahanannya.
Dalam pertemuan bersama sekitar 150 peneliti BRIN, Prabowo terlihat berdialog langsung mengenai sejumlah inovasi dalam negeri. Uji coba genteng berbahan biomassa tersebut menjadi salah satu momen yang paling banyak mendapat perhatian karena memberikan gambaran sederhana mengenai dukungan pemerintah terhadap produk hasil riset nasional.
Dari sisi komunikasi publik, aksi tersebut dinilai efektif karena menghadirkan pesan yang mudah dipahami masyarakat. Presiden secara langsung menunjukkan keyakinan terhadap kemampuan inovasi dalam negeri, sekaligus mendorong perhatian publik terhadap pemanfaatan hasil penelitian nasional.
Namun, di balik simbol tersebut, tantangan terbesar justru berada pada tahap berikutnya, yakni bagaimana inovasi tersebut dapat diproduksi secara luas dan digunakan masyarakat.
Pakar inovasi menilai keberhasilan sebuah teknologi tidak hanya ditentukan dari kemampuan produk saat diuji, tetapi juga dari kesiapan industri, biaya produksi, dukungan kebijakan, hingga kemampuan menjangkau pasar.
Genteng berbahan sabut kelapa memiliki sejumlah potensi, mulai dari pemanfaatan limbah pertanian, bobot yang lebih ringan, hingga nilai ramah lingkungan. Namun, tantangan seperti harga produksi yang masih lebih tinggi dibanding genteng konvensional menjadi pekerjaan rumah agar produk tersebut dapat diterima secara luas.
Apabila pemerintah memiliki rencana mengganti penggunaan atap seng secara lebih luas, maka kebijakan tersebut membutuhkan kajian yang matang. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan kualitas material, tetapi juga menyangkut anggaran, rantai pasok, kesiapan produsen, serta kemampuan masyarakat untuk mendapatkannya.
Karena itu, keberhasilan inovasi genteng sabut kelapa tidak cukup hanya melalui demonstrasi di Istana. Hal yang lebih penting adalah memastikan hasil riset BRIN dapat masuk ke industri, diproduksi dengan biaya terjangkau, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Indonesia memiliki banyak hasil penelitian dan inovasi. Tantangan terbesar bukan hanya menciptakan teknologi baru, tetapi memastikan inovasi tersebut tidak berhenti sebagai prototipe atau sekadar menjadi simbol dukungan politik. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah riset bukan hanya seberapa kuat diuji, melainkan seberapa besar dampaknya bagi kehidupan masyarakat.(Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan