Beritabanten.com – Perempuan tidak cukup hanya menjadi penggerak keluarga dan masyarakat. Di tengah dinamika politik yang terus berubah, perempuan juga harus berani mengambil posisi sebagai pengambil keputusan.

Pesan itu mengemuka dalam Sekolah Politik Perempuan yang menghadirkan Hj. Uswatun Hasanah, Anggota DPRD Provinsi Banten, sebagai salah satu narasumber di Balai Diklat Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan.

Uswatun mendorong perempuan, khususnya kader organisasi perempuan, untuk tidak ragu memasuki ruang politik dan memanfaatkan peluang keterwakilan perempuan yang telah dibuka melalui regulasi.

“Pemimpin itu tidak hanya soal memimpin organisasi. Perempuan juga belajar kepemimpinan dari rumah, dari keluarga, dan dari lingkungan sekitarnya,” ujarnya, Minggu (13/9).

Menurutnya, pengalaman berorganisasi merupakan modal penting bagi perempuan yang ingin terjun ke dunia politik. Politik memang tidak mudah, tetapi bukan berarti perempuan tidak mampu. Jika memahami dan menguasai metodenya, perempuan memiliki peluang yang sama untuk bertarung.

Uswatun juga mengingatkan pentingnya kesiapan perempuan menghadapi realitas politik. Bukan hanya keberanian, tetapi juga kemampuan organisasi, komunikasi, jaringan, kesehatan, hingga kesiapan finansial.

Ia membagikan pengalaman politiknya yang pernah memperoleh dukungan suara tinggi berdasarkan survei, namun hasil pemilihan berkata lain. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa politik membutuhkan strategi, kerja keras, kedekatan dengan masyarakat, dan perjuangan yang tidak boleh berhenti.

Dari RT hingga DPRD, Perempuan Punya Ruang

Uswatun melihat kepemimpinan perempuan di Banten sebenarnya telah tumbuh di berbagai lini, mulai dari lingkungan RT, organisasi kemasyarakatan, dunia profesi, hingga lembaga legislatif.

Namun, tantangan yang masih kuat adalah stigma bahwa perempuan kurang mampu mengambil keputusan dan memimpin.

Padahal, menurutnya, perempuan memiliki kekuatan komunikasi, empati, ketelitian, dan kepekaan sosial yang justru menjadi modal penting dalam kepemimpinan.

Ketika perempuan berhasil masuk ke lembaga legislatif, ruang perjuangannya menjadi jauh lebih luas. Perempuan dapat memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui bidang pendidikan, perekonomian, penganggaran, infrastruktur, hingga kemasyarakatan dan sosial keagamaan.

Karena itu, perempuan harus berhenti merasa bahwa politik adalah dunia orang lain.

Organisasi Perempuan, Modal Politik yang Kuat

Uswatun juga menyebut organisasi perempuan, termasuk Wanita Islam (WI), sebagai modal sosial penting untuk melahirkan calon-calon pemimpin perempuan.

Pengalaman berorganisasi membentuk kemampuan perempuan dalam membangun jaringan, mengelola kegiatan, berkomunikasi, menyelesaikan persoalan, sekaligus memahami kebutuhan masyarakat.

Namun, modal sosial saja tidak cukup. Perempuan harus memiliki strategi politik yang realistis dan membangun basis dukungan secara konsisten.

Bagi Uswatun, politik bukan sekadar soal siapa yang mendapatkan kursi, tetapi siapa yang hadir ketika keputusan-keputusan penting tentang masyarakat dibuat.

“Jangan Takut Terjun ke Politik”

Di hadapan peserta Sekolah Politik Perempuan, Uswatun menyampaikan pesan tegas bahwa perempuan tidak boleh kehilangan keberanian hanya karena politik dianggap sebagai dunia yang keras.

“Perempuan WI yang sudah mengikuti Sekolah Politik Perempuan harus optimistis dan berani terjun ke dunia politik,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keterwakilan perempuan tidak boleh berhenti pada angka 30 persen atau sekadar memenuhi persyaratan administratif. Perempuan harus hadir dengan kualitas, kapasitas, integritas, dan keberanian untuk menentukan arah kebijakan.

Sebab, jika perempuan terus berada di luar ruang pengambilan keputusan, jangan heran jika banyak keputusan tentang perempuan justru dibuat tanpa cukup menghadirkan suara perempuan.

Perempuan bukan sekadar pemilih. Perempuan harus menjadi penentu. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com