Beritabanten.com – Sekolah Politik Perempuan Wanita Islam (WI) Banten kembali menggelar kegiatan edukasi politik. Kali ini, Pemateri Madinatul Fadhilah, S.H., membawakan materi mengenai Personal Branding Politik. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa membangun citra diri di dunia politik membutuhkan persiapan matang, investasi, dan strategi yang tepat.

 

Fadhilah menjelaskan bahwa personal branding politik tidak bisa dilakukan secara instan. Mengutip teori segitiga bisnis (cepat, aman, berkualitas), ia menekankan bahwa kualitas branding yang baik pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

 

“Personal branding itu butuh uang. Kalau mau cepat aman berkualitas baik, harganya pasti mahal. Jadi kalau Bapaknya sudah menyiapkan anaknya untuk bisa berpartisipasi dalam politik, itu adalah bentuk investasi,” ujarnya.

 

Ia mengibaratkan politik layaknya sebuah bisnis yang memerlukan persiapan jangka panjang. Menjelang Pemilu 2029, perempuan yang ingin terjun ke dunia politik harus mulai membekali diri dari sekarang, salah satunya melalui investasi sosial. “Politik adalah bisnis,” tegasnya.

 

Meski demikian, Fadhilah mengingatkan bahwa personal branding bukanlah alat untuk menipu publik. Ia menekankan bahwa branding adalah upaya menunjukkan originalitas diri kepada rakyat, bukan untuk ghosting (menghilang) atau PHP (Pemberi Harapan Palsu) kepada masyarakat.

 

Lebih lanjut, ia menyoroti besarnya tantangan yang dihadapi perempuan di kancah politik. Menurutnya, perempuan membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk menaiki tangga karier politik. Tekanan politik dari berbagai arah seringkali membuat idealisme goyah.

 

“Teori power tends to corrupt (kekuasaan cenderung korup) sering terjadi karena tekanan politik. Ketika seseorang masuk politik, gaya bicaranya kadang berubah, bahkan nyelenah. Di sinilah kita membutuhkan keterampilan untuk mengecek informasi dan kebenaran,” jelasnya.

 

Fadhilah menegaskan bahwa prinsip kebenaran harus tetap menjadi pegangan utama bagi seorang pemimpin, meskipun banyak tekanan yang menghadang. Ia berharap, melalui Sekolah Politik Perempuan WI Banten ini, kaum perempuan dapat semakin berani dan mampu menyuarakan aspirasinya di kancah politik.

 

“Kita membutuhkan keterampilan dalam mengecek informasi dan kebenaran ketika kita menjadi pemimpin. Pasti akan ada banyak tekanan. Prinsip kebenaran itu ada pada kebenaran,” pungkasnya.

 

Kegiatan ini diharapkan menjadi bekal bagi para peserta untuk memahami dinamika politik yang sesungguhnya, serta mampu menjaga integritas dan idealisme saat terjun langsung ke masyarakat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com