Beritabanten.com — Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar dari halaman Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah, Desa Sindang Sono, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, Senin sore, 7 September 2026. Ribuan jemaah berkumpul mengantar KH Ahmad Fudholi ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Sesampainya di lokasi pemakaman, seorang muazin mengumandangkan azan. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Ribuan jemaah mengikuti pembacaan sejumlah surah pendek Al-Qur’an hingga proses pemakaman selesai.
Tak banyak yang terdengar selain lantunan ayat suci dan doa. Para jemaah bertahan di sekitar lokasi pemakaman, mengikuti setiap tahapan penghantaran jenazah hingga ke liang lahat.
Kepergian KH Ahmad Fudholi meninggalkan duka bagi keluarga, kalangan ulama, dan masyarakat yang selama ini mengenal kiprah dakwahnya.
Sekretaris MUI Kabupaten Tangerang, KH Nur Alam, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya KH Ahmad Fudholi. Ia mengatakan kabar duka tersebut diterima pihaknya pada Senin sekitar pukul 12.00 WIB.
“Kepergian almarhum menjadi duka bagi keluarga, para ulama, serta masyarakat yang selama ini mengenal dan mengikuti kiprah dakwahnya,” ujar Nur Alam.
Wafat Setelah Kecelakaan
KH Ahmad Fudholi sebelumnya mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Tol Tangerang-Merak, tepatnya di kilometer 63+800 B, Kabupaten Serang, Banten, Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 03.00 WIB.
Sebelum kecelakaan terjadi, penceramah asal Tangerang itu diketahui baru selesai menghadiri kegiatan keagamaan di wilayah Cikaduen, Kabupaten Pandeglang.
Beberapa hari setelah kecelakaan tersebut, kabar duka tentang wafatnya KH Ahmad Fudholi menyebar dan mengundang perhatian masyarakat, khususnya kalangan yang selama ini mengikuti kegiatan dakwahnya.
Senin sore, perjalanan itu berakhir di kompleks Pondok Pesantren Al-Hijaiyyah. Ribuan jemaah datang bukan hanya untuk menyaksikan prosesi pemakaman, tetapi juga untuk memberikan penghormatan terakhir.
Di halaman pesantren, liang lahat telah disiapkan. Jenazah kemudian dikebumikan di tengah lantunan Al-Qur’an dan doa bersama.
Bagi masyarakat yang mengenal sosoknya, pemakaman itu menjadi penanda berakhirnya perjalanan seorang pendakwah. Namun, bagi keluarga, ulama, dan para jemaah yang pernah mengikuti dakwahnya, kepergian tersebut menyisakan kehilangan yang tidak singkat.
Lantunan ayat suci yang mengiringi pemakaman menjadi bagian terakhir dari penghormatan kepada KH Ahmad Fudholi sebelum ia kembali ke hadapan Allah SWT. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan