Beritabanten.com – Hobi menanam buah di pekarangan rumah ternyata tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bagi Amus, warga Kota Tangerang, menanam lengkeng telah menjadi aktivitas yang ditekuni selama sekitar 10 tahun sekaligus bagian dari upaya sederhana memanfaatkan lahan rumah untuk menghasilkan pangan.
Amus mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman khusus dalam budidaya lengkeng. Ia mulai tertarik setelah belajar dari seorang teman yang lebih dahulu menanam dan merawat pohon lengkeng.
Dari pengalaman tersebut, Amus kemudian mencoba mengembangkan sendiri tanaman lengkeng di pekarangan rumah. Salah satu cara yang dipelajarinya adalah mencangkok tanaman dari pohon milik temannya.
Berawal dari coba-coba, tanaman tersebut akhirnya tumbuh dan mulai menghasilkan buah. Bagi Amus, keberhasilan memanen lengkeng dari tanaman yang dirawat sendiri memberikan kepuasan tersendiri.
“Alhamdulillah, sudah bisa panen. Musim kemarau juga tetap berjalan, tetapi kita harus rajin menyiram agar pohonnya tetap segar dan bisa berbuah,” ujar Amus.
Menurutnya, merawat pohon lengkeng membutuhkan ketelatenan, terutama ketika memasuki musim kemarau. Ketersediaan air menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan agar tanaman tetap tumbuh dengan baik.
Aktivitas menanam di pekarangan juga membuat Amus semakin memahami bahwa lahan terbatas di sekitar rumah tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan.
Tanaman buah seperti lengkeng tidak hanya memberikan hasil ketika memasuki masa panen, tetapi juga membuat lingkungan rumah menjadi lebih hijau dan produktif.
Urban Farming di Tengah Keterbatasan Lahan
Apa yang dilakukan Amus sejalan dengan konsep urban farming atau pertanian perkotaan. Konsep ini mendorong masyarakat memanfaatkan ruang yang tersedia di kawasan perkotaan, termasuk halaman rumah, untuk kegiatan budidaya tanaman pangan.
Urban farming tidak selalu membutuhkan lahan luas. Pekarangan, pot, dinding, balkon, hingga ruang terbatas lainnya dapat dimanfaatkan sesuai jenis tanaman dan teknik budidaya yang digunakan.
Dalam konteks perkotaan, aktivitas tersebut memiliki manfaat yang lebih luas. Selain membantu menyediakan sebagian kebutuhan pangan keluarga, urban farming juga dapat memperkuat penghijauan lingkungan, meningkatkan produktivitas lahan, serta mendorong masyarakat lebih dekat dengan proses produksi pangan.
Nilai Ekonomi dari Sebuah Hobi
Di luar manfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, menanam lengkeng juga memiliki potensi nilai ekonomi.
Ketika tanaman telah produktif dan mampu menghasilkan buah secara rutin, hasil panen dapat dikonsumsi sendiri sehingga membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli buah.
Jika produksi berlebih, buah yang dipanen juga dapat dibagikan atau dijual kepada tetangga dan lingkungan sekitar. Dalam skala yang lebih besar, budidaya tersebut dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan dengan menjual buah segar maupun bibit tanaman.
Nilai ekonomi lainnya terletak pada kemampuan memperbanyak tanaman. Teknik pencangkokan yang dipelajari Amus memungkinkan tanaman dikembangkan tanpa harus selalu membeli bibit baru. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun juga menjadi modal tersendiri apabila suatu saat dikembangkan menjadi usaha pembibitan.
Dengan demikian, hobi berkebun dapat memberikan manfaat ganda. Di satu sisi menghasilkan pangan dan membuat lingkungan lebih hijau, sementara di sisi lain membuka peluang ekonomi dari hasil panen maupun pengembangan bibit.
Potensi tersebut menjadi semakin relevan di kawasan perkotaan, ketika harga kebutuhan pangan dan keterbatasan lahan menjadi tantangan bagi rumah tangga.
Sejalan dengan Program Pemkot Tangerang
Semangat memanfaatkan lahan rumah untuk menanam juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong penghijauan dan ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah Kota Tangerang sebelumnya juga pernah membagikan bibit tanaman kepada warga sebagai bagian dari upaya mendorong masyarakat memanfaatkan lingkungan tempat tinggal secara produktif.
Program pembagian bibit akan semakin memiliki dampak apabila tanaman yang diterima masyarakat tidak hanya ditanam, tetapi dirawat hingga menghasilkan. Dalam konteks ini, pengalaman Amus selama satu dekade menunjukkan pentingnya ketekunan warga dalam menjaga keberlanjutan kegiatan urban farming.
Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kemauan untuk merawat tanaman, bantuan berupa bibit dapat berkembang menjadi aset produktif rumah tangga.
Dari satu halaman rumah, gerakan menanam dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama. Jika dilakukan secara luas, pekarangan warga dapat menjadi bagian dari ekosistem pangan perkotaan sekaligus menciptakan peluang ekonomi mikro.
Bagi Amus, menanam lengkeng kini bukan lagi sekadar hobi. Sepuluh tahun menjalani aktivitas tersebut membuatnya terbiasa merawat tanaman sekaligus menikmati hasil dari ketekunan sendiri.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan pertanian yang luas. Di tengah padatnya kawasan perkotaan, halaman rumah pun dapat menjadi ruang produktif apabila dikelola secara konsisten.
Urban farming pada akhirnya bukan hanya tentang menanam tanaman. Ia juga tentang mengubah ruang terbatas menjadi sumber pangan, menjaga lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
Dari satu pohon lengkeng, sebuah hobi dapat berkembang menjadi kebiasaan produktif. Dari banyak pekarangan yang dimanfaatkan, terbuka peluang membangun lingkungan perkotaan yang lebih hijau, mandiri, dan memiliki ketahanan pangan yang lebih kuat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan