Beritabanten.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan publik berskala besar yang sejak awal menghadirkan harapan sekaligus kritik. Program ini menawarkan gagasan sederhana: memastikan anak-anak mendapatkan asupan makanan bergizi. Namun, dalam pelaksanaannya, MBG masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kualitas makanan, distribusi, ketepatan sasaran, hingga tata kelola dan pengawasan.

Hasil survei Tempo Data Science dan Poltracking menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap MBG masih berada di kisaran 46–48 persen. Angka tersebut memang belum dapat disebut ideal. Namun, hampir separuh masyarakat masih memberikan penilaian positif. Kondisi ini menunjukkan bahwa MBG belum dapat disebut gagal, tetapi masih membutuhkan banyak perbaikan agar penerima manfaat dan masyarakat luas semakin percaya.

Dalam perspektif Diffusion of Innovations Theory dari Everett Rogers, penerimaan terhadap sebuah kebijakan tidak berlangsung secara instan. Masyarakat membutuhkan proses untuk mengenal, mencoba, mengamati, dan kemudian menilai manfaat sebuah inovasi.

Hal tersebut relevan dengan MBG. Penilaian masyarakat akan sangat ditentukan oleh pengalaman langsung: apakah makanan yang diterima berkualitas, aman, bergizi, tepat waktu, dan benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak.

Social Learning Theory dari Albert Bandura juga menjelaskan bahwa persepsi masyarakat dapat terbentuk melalui pengalaman orang lain. Ketika masyarakat melihat sekolah yang memperoleh makanan berkualitas dan pengelolaan yang baik, pengalaman positif tersebut dapat menjadi pembelajaran sosial yang memperkuat kepercayaan terhadap program.

Sebaliknya, apabila yang terus muncul adalah persoalan makanan, distribusi yang tidak tertib, pemborosan, atau lemahnya tata kelola, maka pengalaman negatif akan membentuk persepsi publik secara lebih luas.

Karena itu, memperbaiki MBG bukan sekadar persoalan teknis. Kinerja program merupakan bentuk komunikasi publik yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar narasi atau kampanye.

Perspektif lain dapat dilihat melalui Expectation–Disconfirmation Theory. Kepuasan masyarakat muncul dari perbandingan antara harapan dengan pengalaman nyata yang mereka terima. Jika kenyataan berada di bawah harapan, muncul ketidakpuasan. Sebaliknya, ketika pelayanan mampu memenuhi atau melampaui harapan, tingkat kepuasan akan meningkat.

MBG memiliki ekspektasi publik yang tinggi. Masyarakat berharap makanan yang diberikan benar-benar bergizi, aman, layak, tepat waktu, dan diterima oleh mereka yang membutuhkan. Ketika ekspektasi tersebut belum terpenuhi, kritik dan ketidakpuasan merupakan sesuatu yang wajar.

Karena itu, jawaban terhadap kritik bukan sekadar meminta masyarakat bersabar, melainkan menghadirkan perbaikan nyata. Kualitas makanan harus ditingkatkan, distribusi diperbaiki, pengawasan diperketat, tata kelola dibuat semakin transparan, dan setiap keluhan masyarakat harus mendapatkan respons.

Spiral of Silence Theory dari Elisabeth Noelle-Neumann juga memberikan perspektif mengenai pembentukan opini publik. Masyarakat yang sebenarnya merasakan manfaat MBG dapat memilih diam apabila merasa pandangan positif terhadap program tersebut bukan opini yang dominan.

Sebaliknya, semakin banyak pengalaman positif yang terlihat di ruang publik, semakin terbuka peluang bagi masyarakat yang mendukung program untuk menyampaikan pengalamannya. Dengan demikian, keberhasilan program di lapangan dapat sekaligus mengubah percakapan publik.

Empat perspektif tersebut menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap MBG bukan sesuatu yang statis. Persepsi dapat berubah mengikuti pengalaman, kualitas pelayanan, pembelajaran sosial, serta tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan.

Karena itu, hasil survei Tempo dan Poltracking sebaiknya tidak dibaca sebagai vonis akhir terhadap MBG. Angka kepuasan 46–48 persen merupakan gambaran pada satu fase perjalanan program. Masih terdapat kelompok yang belum puas, tetapi pada saat yang sama terdapat basis penerimaan yang cukup besar untuk terus dikembangkan.

Tantangan pemerintah saat ini adalah mengubah basis penerimaan tersebut menjadi kepercayaan publik yang lebih kuat. Caranya bukan dengan membantah kritik, melainkan dengan memperbaiki kinerja.

Semakin baik kualitas makanan, semakin tepat distribusi, semakin transparan tata kelola, dan semakin kuat pengawasan, semakin kecil jarak antara harapan dan kenyataan masyarakat.

Pada akhirnya, kritik tidak perlu dijawab dengan sikap defensif, sementara keraguan tidak harus dilawan dengan propaganda. Jawaban terbaik terhadap kritik adalah kinerja yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

MBG akan semakin diterima bukan karena masyarakat diminta untuk percaya, tetapi karena masyarakat melihat, mengalami, dan merasakan sendiri manfaat serta perbaikan program tersebut.

Jika proses itu berjalan konsisten, bukan tidak mungkin tingkat kepuasan yang saat ini berada di kisaran 46–48 persen akan terus meningkat. Di situlah MBG tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi berkembang menjadi kebijakan yang memperoleh kepercayaan dan penerimaan sosial yang lebih kuat. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com