Beritabanten.com – Ada pekerjaan besar yang tidak selalu terlihat dari luar sebuah lembaga zakat: memastikan setiap rupiah yang dihimpun dari kepercayaan masyarakat dapat kembali menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Pekerjaan itulah yang tengah ditata Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menjelang Rakornas 2026. Bukan sekadar rapat, melainkan upaya membaca kembali perjalanan, menimbang capaian, lalu menentukan langkah agar pengelolaan zakat, infak, dan sedekah semakin kuat dan berdampak.

Melalui forum Pra-Rakornas Bidang Riset, Pengembangan, Perencanaan, dan Inovasi yang digelar secara daring, Kamis (20/8/2026), seluruh pimpinan BAZNAS daerah diajak melihat kembali capaian semester pertama sekaligus menyiapkan strategi menghadapi paruh kedua 2026.

Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid menegaskan bahwa evaluasi bukan sekadar mencatat angka. Di balik angka pengumpulan dan pendistribusian ZIS terdapat amanah publik yang harus dipertanggungjawabkan.

“Jadi kita evaluasi capaian semester 1 2026, kemudian atas dasar evaluasi itu, kita melakukan langkah-langkah penyempurnaan,” jelas Sodik Mudjahid saat memberikan arahan evaluasi kinerja lembaga kepada seluruh peserta rapat koordinasi.

Dari forum tersebut, sedikitnya lima pilar menjadi perhatian utama. Penguatan sumber daya manusia, perluasan kolaborasi, lahirnya inovasi, optimalisasi mobilisasi dana melalui lima direktorat, serta penunaian amanah melalui pendistribusian dan pemberdayaan menjadi fondasi yang hendak diperkuat.

Bagi BAZNAS, pengelolaan zakat tidak boleh berhenti pada seberapa besar dana berhasil dihimpun. Ujian sesungguhnya berada pada sejauh mana dana tersebut mampu mengubah kehidupan mustahik, membuka jalan keluar dari kemiskinan, dan pada akhirnya mengantarkan penerima manfaat menjadi pribadi yang berdaya.

Karena itu, evaluasi semester pertama menjadi penting. Setiap capaian harus dibaca, setiap kekurangan harus diperbaiki, dan setiap peluang harus diterjemahkan menjadi program yang lebih tepat sasaran.

“Penting hari ini yang terus menggelar acara-acara persiapan Rakornas agar nanti efektif, dan khusus tema hari ini adalah kita melakukan evaluasi, agar kita tahu persis posisi kita saat ini untuk melangkah kepada sisa waktu kita semester kedua tahun 2026 ini,” ujar Sodik.

Dari layar pertemuan daring itu, suara konsolidasi datang dari 565 pimpinan BAZNAS daerah. Mereka menjadi bagian dari persiapan teknis menuju Rakornas BAZNAS yang akan berlangsung di Jakarta pada 6–9 Oktober 2026.

Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah Saidah Sakwan mengatakan konsolidasi tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan arah pengelolaan zakat nasional berjalan dalam satu visi.

Namun, di balik agenda kelembagaan itu, ada cerita yang jauh lebih manusiawi: orang-orang yang perlahan keluar dari jerat kemiskinan.

Saidah memaparkan bahwa program pemberdayaan BAZNAS pada tahun sebelumnya telah berkontribusi terhadap pengentasan kemiskinan berbasis data. Sebanyak 302.994 mustahik berhasil dientaskan, meningkat 5,84 persen secara year-on-year.

Lebih dari itu, sebanyak 131.952 jiwa yang sebelumnya berada dalam kemiskinan ekstrem berhasil dientaskan. Bahkan, 15.649 orang berhasil berubah status dari mustahik menjadi muzaki.

“Dalam rangka pengentasan kemiskinan, kita pada tahun lalu sudah bisa mengentaskan 302.994 mustahik atau naik 5,84 persen year-on-year, di antaranya 131.952 jiwa dari miskin ekstrem serta berhasil mengubah status 15.649 orang dari mustahik menjadi muzaki,” ungkap Saidah.

Angka-angka tersebut pada akhirnya bukan hanya statistik. Di dalamnya terdapat keluarga yang kembali memiliki daya beli, anak-anak yang memperoleh kesempatan pendidikan, pelaku usaha kecil yang kembali berdiri, dan orang-orang yang perlahan tidak lagi menunggu uluran tangan.

Itulah sebabnya pembenahan SDM, inovasi pengumpulan ZIS, kolaborasi, hingga penguatan distribusi tidak dapat dipisahkan dari tujuan besar zakat: menghadirkan kemandirian.

Pra-Rakornas 2026 menjadi salah satu tahapan untuk memastikan perjalanan tersebut tidak kehilangan arah. BAZNAS ingin memasuki semester kedua dengan pijakan yang lebih terukur, sekaligus menyiapkan Program Strategis BAZNAS 2026–2031 agar tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan lembaga zakat bukan hanya tentang seberapa banyak yang terkumpul, tetapi tentang berapa banyak kehidupan yang berubah setelahnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com