Beritabanten.com — Dalam angka stunting ada cerita tentang anak-anak yang sedang tumbuh, keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan gizi, dan masa depan yang perlahan dibentuk sejak hari ini.

Karena itu, persoalan stunting tidak sekadar berbicara tentang tinggi dan berat badan. Ia menyentuh sesuatu yang jauh lebih panjang: kualitas manusia yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa mendatang.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan memilih bergerak dari usia dini melalui Program SIGAP Anak Sehat 2026. Program ini menyasar keluarga dengan anak berisiko stunting di Kecamatan Serpong.

Program tersebut dijalankan selama 56 hari melalui enam puskesmas. Selain pemberian makanan tambahan, keluarga sasaran juga mendapatkan pendampingan agar intervensi tidak berhenti pada makanan yang diberikan, tetapi berlanjut pada perubahan pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie dalam peluncuran Program SIGAP Anak Sehat 2026, Senin (10/8/2026), melihat persoalan angka stunting dari perspektif yang lebih jauh.

Ia membayangkan anak-anak yang hari ini menjadi sasaran program akan memasuki usia produktif ketika Indonesia menuju 2045.

“Saya membayangkan mereka usia 20 tahun pada 2045. Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanan mereka harus seimbang antara tinggi badan, umur, dengan berat badannya. Itu harus kita intervensi dari sekarang,” ujar Benyamin dalam keterangan tersiar luas, Jumat 14 Agustus 2026.

Pesan tersebut sederhana, tetapi memiliki makna panjang: masa depan generasi tidak dimulai ketika mereka dewasa. Masa depan itu dibentuk dari makanan yang mereka konsumsi, kesehatan yang mereka dapatkan, serta perhatian yang diterima sejak kecil.

Bukan Sekadar Soal Tinggi dan Berat Badan

Stunting kerap dilihat melalui angka pertumbuhan anak. Namun, bagi pemerintah daerah, persoalannya jauh lebih kompleks.

Benyamin menegaskan, kekurangan asupan gizi pada masa pertumbuhan dapat berdampak bukan hanya terhadap kondisi fisik, tetapi juga perkembangan mental dan kemampuan berpikir anak.

Tantangan tersebut semakin nyata karena memberikan makanan kepada anak usia balita dan batita tidak selalu mudah.

“Rata-rata memang ini sebuah fenomena, anak-anak itu, balita, batita itu susah dikasih makan. Tapi ini memengaruhi pertumbuhan. Bukan saja fisik, tetapi juga mental, pikiran dan sebagainya,” jelasnya.

Di titik inilah intervensi menjadi penting.

Bukan sekadar memberikan makanan tambahan, tetapi memastikan keluarga memiliki pengetahuan dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan anak secara berkelanjutan.

Serpong dipilih sebagai salah satu wilayah intervensi karena berdasarkan data masih terdapat angka stunting yang membutuhkan perhatian.

Puskesmas kemudian menjadi ujung tombak pelaksanaan program. Selama 56 hari, enam puskesmas di Kecamatan Serpong menjalankan pemberian makanan tambahan sekaligus pendampingan kepada keluarga sasaran.

Ketika Pemerintah Tak Berjalan Sendiri

Menangani stunting membutuhkan waktu, tenaga, sumber daya dan keterlibatan banyak pihak.

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menyadari bahwa persoalan sebesar ini tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah.

Karena itu, Program SIGAP Anak Sehat 2026 melibatkan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

PT Telkom Indonesia wilayah Banten turut memberikan dukungan. Kolaborasi tersebut juga melibatkan Srikandi Telkom Group dan Danantara Indonesia.

Bagi Pemkot Tangsel, dukungan tersebut bukan sekadar bantuan tambahan. Kolaborasi menjadi bagian dari upaya memperluas daya jangkau program kesehatan masyarakat.

“Atas nama pemerintah kota dan masyarakat, saya ucapkan terima kasih kepada PT Telkom, khususnya wilayah Banten, yang telah mengeluarkan CSR-nya, TJSL-nya dalam kaitan dengan program penanganan stunting yang diselenggarakan oleh pemerintah kota melalui bidang kesehatan,” kata Benyamin.

Harapannya, pola kolaborasi tersebut tidak berhenti ketika program 56 hari selesai.

Benyamin bahkan mendorong agar dukungan TJSL diperluas ke berbagai sektor lain.

“Saya berharap ke depan TJSL-nya akan terus diperluas, diperbesar, diperlebar lagi. Bukan saja untuk penanganan stunting, tetapi juga untuk program-program kesehatan yang lainnya dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan juga,” ujarnya.

Menanam Masa Depan dari Meja Makan

Pada akhirnya, perang melawan stunting bukan hanya berlangsung di puskesmas atau kantor pemerintahan.

Ia juga berlangsung di rumah-rumah, di meja makan, di tangan orang tua yang berusaha membuat anaknya mau makan, dan dalam keputusan sederhana tentang apa yang diberikan kepada anak setiap hari.

Program SIGAP Anak Sehat 2026 menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar persoalan tersebut tidak terlambat ditangani.

Sebab ketika seorang anak hari ini mendapatkan gizi yang cukup, pendampingan yang tepat dan lingkungan yang mendukung pertumbuhannya, yang sedang disiapkan bukan hanya tubuh yang lebih sehat.

Yang sedang disiapkan adalah seorang manusia yang kelak akan mengisi ruang-ruang produktif bangsa.

Anak-anak Serpong hari ini adalah bagian dari generasi yang dibayangkan berada pada usia produktif pada 2045.

Karena itu, 56 hari intervensi bukan sekadar hitungan waktu.

Ia adalah bagian kecil dari perjalanan panjang untuk memastikan generasi yang tumbuh hari ini memiliki kesempatan yang lebih baik untuk menjadi generasi sehat, produktif dan mampu membawa Indonesia menuju masa depan yang diharapkan. (Adv)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com