Beritabnten.com – Siang hari di kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan memiliki ritme tersendiri. Aktivitas pemerintahan tetap berjalan, pegawai keluar-masuk gedung, kendaraan bergerak di sekitar kompleks, dan berbagai urusan pelayanan publik berlangsung seperti biasa.

Namun ketika azan Zuhur berkumandang, ritme itu perlahan berubah. Dari berbagai gedung pemerintahan, pegawai mulai berjalan menuju Masjid Al-I’tishom. Dominasi seragam Pemerintah Kota Tangerang Selatan terlihat di antara jamaah yang berdatangan.

Ada yang datang bersama rekan sekantor, ada pula yang berjalan sendiri. Sebagian langsung menuju tempat wudu, sementara lainnya mengambil waktu sejenak untuk duduk dan menenangkan diri sebelum salat dimulai.

Pemandangan tersebut menjadi keseharian yang menarik di kawasan pemerintahan. Mereka yang sehari-hari berada dalam struktur birokrasi dengan jabatan dan tanggung jawab berbeda, untuk beberapa saat bertemu dalam ruang yang sama sebagai jamaah.

Masjid Al-I’tishom berada di kawasan Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Selatan, Jalan Maruga Raya Nomor 1, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat. Lokasinya yang berada di jantung kompleks pemerintahan membuat masjid ini mudah dijangkau oleh aparatur pemerintah maupun masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Masjid tersebut mulai dibangun pada 2015. Peletakan batu pertama dilakukan pada 28 Oktober 2015 oleh Wali Kota Tangerang Selatan saat itu, Airin Rachmi Diany. Sejak awal, Al-I’tishom dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah bagi pegawai pemerintah, tetapi juga terbuka bagi masyarakat umum.

Bangunan masjid memiliki dua lantai dengan ukuran sekitar 80 x 80 meter. Kapasitasnya pada saat pembangunan disebut mampu menampung sekitar 1.400 jamaah di lantai bawah dan 350 jamaah di lantai atas.

Skala tersebut memperlihatkan bahwa Al-I’tishom memang dipersiapkan sebagai masjid dengan daya tampung besar. Terlebih lokasinya berada di kawasan pemerintahan yang setiap hari menjadi tempat berkumpulnya ribuan aparatur dan masyarakat yang memiliki berbagai kepentingan pelayanan publik.

Dari sisi rancangan, masjid ini juga membawa gagasan pencahayaan alami. Bukaan pada bangunan dan bagian mihrab dirancang agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruang masjid. Dengan demikian, bangunan tidak hanya mengutamakan kapasitas, tetapi juga kenyamanan jamaah.

Namun kekuatan Al-I’tishom tidak semata terletak pada ukuran maupun arsitekturnya. Nama Al-I’tishom sendiri memiliki pesan tentang berpegang teguh dan persatuan. Gagasan tersebut menjadi relevan karena masjid berada di tengah lingkungan yang dihuni orang-orang dengan latar belakang, jabatan dan tanggung jawab yang beragam.

Pada waktu Zuhur, makna itu terasa lebih nyata. Seragam dinas yang biasanya menunjukkan identitas perangkat daerah seakan kehilangan sekatnya ketika jamaah berdiri dalam satu barisan. Kepala bidang, staf, pejabat, tenaga pendukung dan masyarakat dapat berada dalam saf yang sama.

Tidak ada meja kerja di hadapan mereka. Tidak ada dokumen yang harus ditandatangani. Tidak ada rapat yang harus dipimpin. Yang tersisa adalah waktu beberapa menit untuk menunaikan kewajiban ibadah sebelum kembali menjalankan aktivitas masing-masing.

Fungsi Al-I’tishom kemudian diperkuat melalui Peraturan Wali Kota Tangerang Selatan Nomor 119 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Masjid Al-I’tishom. Regulasi tersebut menempatkan masjid sebagai pusat pembinaan peribadatan, pendidikan dan sosial, sekaligus mencakup kegiatan sosial, pemberdayaan umat, pengelolaan sarana prasarana dan pengembangan sumber daya manusia.

Dengan fungsi tersebut, Al-I’tishom memiliki posisi lebih luas daripada sekadar masjid perkantoran. Ia menjadi bagian dari ekosistem kehidupan keagamaan di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Di tengah pusat pemerintahan yang identik dengan administrasi, regulasi dan pelayanan publik, keberadaan masjid menghadirkan dimensi lain. Ia menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa aparatur pemerintahan juga memiliki tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjalankan tugasnya.

Siang itu, ketika saf mulai rapat dan imam bersiap memimpin salat, suasana kawasan pemerintahan seperti mendapatkan jeda. Beragam kesibukan berhenti untuk beberapa saat, sebelum kembali bergerak setelah salam terakhir diucapkan.

Al-I’tishom akhirnya bukan sekadar bangunan yang berdiri di antara gedung-gedung pemerintahan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara kehidupan birokrasi dan kehidupan spiritual, tempat seragam dinas bertemu sajadah dan kesibukan pelayanan publik bertemu dengan ketenangan ibadah.

Di tengah hiruk-pikuk pusat pemerintahan, Al-I’tishom mengajarkan satu hal sederhana: ada saatnya seorang aparatur meninggalkan sejenak jabatan dan pekerjaannya, merapatkan barisan bersama orang lain, lalu menghadap kepada Tuhan yang sama. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com