Beritabanten.com – Hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode 5–19 Juli 2026 menunjukkan perubahan menarik dalam peta dukungan politik nasional. Partai Demokrat mencatat elektabilitas sebesar 8,1 persen dan menempati posisi keempat setelah Gerindra, PDIP, dan Golkar.
Dalam survei tersebut, Gerindra berada di posisi teratas dengan elektabilitas 16,9 persen, disusul PDIP sebesar 11,7 persen, Golkar 9,6 persen, dan Demokrat 8,1 persen. Perolehan tersebut menempatkan Demokrat di atas sejumlah partai lain seperti PKB, NasDem, PKS, PSI, dan PAN.
Kenaikan posisi Demokrat menjadi perhatian karena partai tersebut mampu menjaga tingkat dukungan di tengah perubahan dinamika politik nasional. Hasil survei ini menunjukkan bahwa Demokrat masih memiliki basis pemilih yang cukup kuat dan mampu bersaing dengan partai-partai besar lainnya.
Salah satu faktor yang dinilai berpengaruh adalah kemampuan Demokrat mempertahankan identitas politiknya. Sebagai bagian dari pemerintahan, Demokrat tetap berada dalam barisan pendukung agenda pemerintah, namun komunikasi politiknya cenderung lebih moderat.
Sikap tersebut membuat Demokrat relatif mampu menjaga ruang politiknya. Partai ini tidak sepenuhnya kehilangan identitas sebagai kekuatan politik yang memiliki posisi dan karakter sendiri, meskipun berada dalam koalisi pemerintahan.
Selain strategi komunikasi politik, keberadaan dua figur utama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), juga menjadi faktor penting.
SBY masih menjadi figur yang melekat dengan pengalaman pemerintahan, stabilitas politik, dan sejarah perjalanan Demokrat. Sementara AHY menjadi wajah utama partai saat ini dengan perannya di pemerintahan serta aktivitas politik yang lebih dekat dengan generasi muda.
Kombinasi antara pengalaman SBY dan kepemimpinan AHY membuat Demokrat memiliki kesinambungan politik. SBY menjaga hubungan dengan basis pemilih lama, sementara AHY berupaya memperluas jangkauan partai kepada kelompok pemilih baru.
Dalam kajian ilmu politik, kondisi tersebut dapat dikaitkan dengan konsep party institutionalization, yaitu kemampuan sebuah partai membangun organisasi yang kuat, kepemimpinan yang stabil, serta identitas politik yang jelas.
Partai dengan kelembagaan yang kuat cenderung lebih mampu bertahan menghadapi perubahan situasi politik karena tidak hanya bergantung pada momentum sesaat atau popularitas individu tertentu.
Selain itu, Demokrat juga masih memiliki modal dari citra politik yang telah terbentuk selama perjalanan partai. Dalam teori issue ownership, sebuah partai dapat memperoleh keuntungan ketika masyarakat mengaitkannya dengan isu atau rekam jejak tertentu.
Bagi Demokrat, pengalaman mengelola pemerintahan, isu stabilitas, serta pembangunan menjadi bagian dari citra yang masih melekat di sebagian pemilih.
Meski demikian, elektabilitas 8,1 persen belum membawa Demokrat kembali ke posisi puncak seperti saat memenangkan Pemilu 2009. Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana mempertahankan tren positif tersebut sekaligus memperluas dukungan menjelang Pemilu 2029.
Demokrat perlu menjaga keseimbangan antara perannya di pemerintahan dan identitas politik sebagai partai yang memiliki karakter sendiri. Jika mampu mempertahankan konsolidasi internal, memperkuat komunikasi publik, serta memaksimalkan peran AHY, Demokrat berpeluang memperkuat posisinya dalam peta politik nasional.
Hasil survei SMRC setidaknya menunjukkan satu hal: Demokrat masih memiliki daya tahan politik dan belum kehilangan pengaruh di tengah persaingan partai yang semakin ketat. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan