Beritabanten.com – Reruntuhan harapan akibat banjir bandang di Aceh Tamiang, menyisakan kisah Muhammad Rojali yang menghadirkan sesuatu yang sering luput dalam penanganan bencana: martabat manusia.
Kehilangan rumah dan harta benda tidak lantas mematikan keinginannya untuk berkontribusi. Justru dari dapur pengungsian, ia menemukan kembali perannya—bukan sekadar sebagai korban, melainkan sebagai bagian dari solusi.
Apa yang dilakukan Rojali mungkin tampak sederhana: memasak untuk sesama penyintas. Namun di balik aktivitas itu, tersimpan proses pemulihan yang jauh lebih kompleks.
Ketika seseorang terdampak bencana diberi ruang untuk terlibat, ia tidak hanya dibantu untuk bertahan hidup, tetapi juga dipulihkan rasa percaya dirinya. Inilah titik krusial yang sering diabaikan dalam skema bantuan konvensional yang cenderung satu arah.
Langkah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui program Dapur Umum Hidangan Berkah Ramadan patut diapresiasi karena melampaui pola bantuan karitatif.
Dengan melibatkan penyintas sebagai pengelola dapur, BAZNAS membangun ekosistem gotong royong yang hidup. Bantuan tidak berhenti sebagai distribusi logistik, tetapi berkembang menjadi ruang interaksi sosial, kerja sama, dan pemulihan psikologis.
Model seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan konsep abstrak. Ia hadir dalam bentuk konkret: pembagian tugas, tanggung jawab bersama, dan rasa memiliki terhadap proses pemulihan.
Ketika dapur umum mampu menyajikan ratusan porsi makanan setiap hari, yang sebenarnya sedang “dimasak” bukan hanya makanan, tetapi juga solidaritas.
Di sisi lain, kisah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari cepatnya bantuan datang, tetapi juga dari bagaimana bantuan itu menghidupkan kembali daya masyarakat.
Ketergantungan yang berkepanjangan justru berpotensi melemahkan. Sebaliknya, pelibatan aktif seperti yang dialami Rojali justru menumbuhkan kemandirian kolektif.
Indonesia, sebagai negara yang rawan bencana, membutuhkan lebih banyak pendekatan serupa. Program yang tidak hanya menolong, tetapi juga menguatkan.
Tidak hanya memberi, tetapi juga mengajak. Karena pada akhirnya, pemulihan sejati tidak datang dari luar semata, melainkan tumbuh dari dalam komunitas itu sendiri.
Dari dapur sederhana di pengungsian, kita belajar satu hal penting: harapan bisa dibangun kembali—asal dimasak bersama. Dan Rojali hingga kini masih setia memberi harapan di tengah nestapa kemanusiaan menjalani ibadah puasa Ramadhan 2026. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan