Beritabanten.com – Budaya feodalisme akademik, relasi kuasa, dan pentingnya membangun kampus yang aman menjadi perhatian dalam Talkshow Interaktif bertajuk “Menggugat Feodalisme Akademik Melalui Kepemimpinan Feminis” yang diselenggarakan Lingkar Studi Feminis (LSF) di Ruang Teater Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan yang diikuti mahasiswa dari berbagai fakultas dan organisasi kemahasiswaan tersebut menghadirkan dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Siti Napsiyah, aktivis pendamping korban dari Puantara, Irhamna, serta Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Zidan Ramdani.

Dalam pemaparannya, Dr. Siti Napsiyah menegaskan bahwa feodalisme akademik tidak dapat dipahami sekadar sebagai penghormatan kepada dosen atau senior. Menurutnya, persoalan muncul ketika relasi kuasa berubah menjadi dominasi sehingga membungkam kritik, menghambat kreativitas, dan membuat sebagian sivitas akademika kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapat.

“Perguruan tinggi membutuhkan kepemimpinan. Namun kepemimpinan tidak boleh berubah menjadi dominasi. Kampus seharusnya menjadi ruang yang melahirkan keberanian berpikir, berdialog, dan saling menghormati, bukan ruang yang membuat orang takut berbicara,” ujarnya.

Melalui perspektif pekerjaan sosial, Siti menjelaskan bahwa budaya feodalisme berdampak pada menurunnya keberanian mahasiswa untuk berpikir kritis, berkurangnya ruang inovasi bagi dosen muda, serta terhambatnya lahir regenerasi kepemimpinan akademik yang sehat.

Sebagai tawaran solusi, ia memperkenalkan Model CARES (Collaboration, Accountability, Respect, Empowerment, dan Safe Space) sebagai pendekatan untuk membangun budaya akademik yang kolaboratif, inklusif, dan berorientasi pada penghormatan terhadap martabat manusia.

Sementara itu, aktivis Puantara, Irhamna, menekankan pentingnya menghadirkan ruang aman bagi korban kekerasan seksual untuk menyampaikan pengalaman mereka tanpa rasa takut maupun stigma.

Ia menilai masih banyak korban yang memilih diam karena belum percaya bahwa sistem mampu memberikan perlindungan dan keadilan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bersama bagi seluruh institusi pendidikan.

Di sisi lain, Ketua DEMA Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta, Zidan Ramdani, mengatakan bahwa ketimpangan relasi kuasa menjadi salah satu faktor yang melanggengkan budaya feodalisme di lingkungan kampus.

Menurutnya, kepemimpinan yang mengedepankan dialog, kesetaraan, dan partisipasi seluruh sivitas akademika menjadi langkah penting untuk menciptakan organisasi kemahasiswaan yang sehat dan demokratis.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Mahasiswa antusias menyampaikan pandangan serta pengalaman mereka terkait budaya senioritas, relasi kuasa, hingga pentingnya membangun ruang akademik yang aman dan bebas dari rasa takut.

Menutup diskusi, Dr. Siti Napsiyah mengajak seluruh sivitas akademika untuk tidak berhenti pada kritik terhadap budaya feodalisme, tetapi mulai mengambil peran dalam membangun perubahan.

“Kampus tidak berubah hanya karena satu kebijakan. Kampus berubah karena ribuan tindakan kecil yang dilakukan setiap hari oleh mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan para pemimpinnya. Tujuan kepemimpinan bukan melahirkan pengikut yang patuh, tetapi melahirkan manusia yang berdaya,” tegasnya.

Melalui forum ini, Lingkar Studi Feminis berharap diskusi mengenai kepemimpinan feminis dan budaya akademik tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun perguruan tinggi yang lebih aman, inklusif, demokratis, dan menjunjung tinggi martabat setiap insan akademik.

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com