Beritabanten.com – Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) kembali memperlihatkan perbedaan sikap dua tokoh yang memiliki hubungan keluarga dekat, yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Meski merupakan saudara sepupu, keduanya beberapa kali berada di posisi yang berbeda dalam perjalanan politik maupun dinamika organisasi NU.

Secara silsilah, Cak Imin merupakan putra Muhassonah Bisri Syansuri, sedangkan Gus Ipul adalah putra Sholichah Bisri Syansuri. Muhassonah dan Sholichah merupakan saudara kandung, putri KH Bisri Syansuri, ulama besar NU yang juga dikenal sebagai salah satu pendiri organisasi tersebut. Latar belakang keluarga itu membuat keduanya tumbuh dalam tradisi Nahdlatul Ulama yang kuat.

Perbedaan sikap keduanya mulai terlihat dalam dinamika politik nasional, khususnya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dalam sejumlah momentum politik, Gus Ipul dan Cak Imin mengambil pilihan yang tidak selalu sejalan, baik dalam strategi politik maupun dukungan terhadap kepemimpinan partai.

Perbedaan tersebut kembali mengemuka menjelang Muktamar ke-35 NU. Cak Imin secara terbuka mengusulkan agar kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada periode mendatang diisi figur baru sebagai bagian dari proses regenerasi organisasi.

Pernyataan itu mendapat tanggapan dari Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Menurut Gus Yahya, Cak Imin tidak pernah tercatat sebagai pengurus PBNU sehingga dinilai tidak berada dalam struktur organisasi. Pernyataan tersebut kemudian dibantah Cak Imin yang menegaskan dirinya merupakan Rais Syuriah NU di tingkat ranting sehingga tetap menjadi bagian dari struktur organisasi Nahdlatul Ulama.

Sementara itu, Gus Ipul yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU berada dalam jajaran kepengurusan yang dipimpin Gus Yahya. Posisi tersebut membuatnya berada pada garis kebijakan yang berbeda dengan pandangan politik Cak Imin menjelang pelaksanaan Muktamar.

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai perbedaan pandangan di kalangan elite NU merupakan hal yang lumrah dalam organisasi besar yang memiliki basis massa luas. Menurutnya, dinamika tersebut mencerminkan adanya ruang demokrasi dalam menentukan arah organisasi, selama tetap menjaga etika dan persatuan.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, berpandangan bahwa hubungan kekerabatan tidak selalu menentukan kesamaan pilihan politik. Dalam banyak kasus, tokoh-tokoh yang berasal dari keluarga besar NU tetap memiliki pandangan dan strategi yang berbeda dalam menyikapi persoalan organisasi maupun politik nasional.

Meski beberapa kali berada di kubu yang berbeda, hubungan kekeluargaan Gus Ipul dan Cak Imin tetap terjalin sebagai bagian dari trah KH Bisri Syansuri. Keduanya merupakan tokoh yang sama-sama memiliki akar kuat di lingkungan Nahdlatul Ulama dan hingga kini masih menjadi figur penting dalam perkembangan organisasi serta politik nasional. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com