Beritabanten.com – Santri jadi presiden, kenapa tidak? Pertanyaan tersebut terlontar oleh Pimpinan Ma’had Darulhusna KH Pahrurroji M Bukhori pada hari ini Minggu 8 Juni 2025.

Pondok pesantren tersebut terletak di Bayangkara, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat 16620.

KH Pahrurroji sengaja melontarkan pertanyaam tersebut kepada para siswa SMPIT kelas 3 yang telah menamatkan kewajiban belajar selama tiga tahun.

Alumni doktoral dari UIN Jakarta tersebut mengingatkan agar santri berpikir ke depan untuk berusaha mengisi pos pengabdian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Santri itu harus menjadi pemimpin bangsa, karena negara kita butuh sosok muslim yang soleh dan kuat,” katanya membuka sambutan di hadapan para murid, orang tua dan para undangan.

KH Pahrurroji lalu mebeberkan kiprah para santri di pem  pentas nasional ada yang menjadi menteri bahkan jadi presiden.

“Santri jadi presiden, Kenapa tidak? Para santri kan sudah siap menguasai banyak ilmu pengentahuan,” tegas dia.

Karena itu, dia meminta kepada seluruh para siswa yang akan melanjutkan ke jenjang lebih untuk tetap memegang teguh nilai ilmu yang selama ini telah diterima di pesantren.

Semua ilmu yang telah disampaikan oleh para guru di ruang kelas merupakan modal berharga dalam mengarungi perjuangan di masa mendatang.

Dia mengungkapkan nilai dari Al-Quran bahwa setiap muslim merupakan agen yang siap dalam menebar kebaikan dan manfaat di mana pun berada.

Seorang santri, dikatakan, mempunyai pengalaman berkumpul dan bekerja sama satu sama lain selama 24 jam ketika berada di pondok pesantren yang pada gilirannya mendapat gambaran keragaman.

“Pesantren adalah miniatur negara, karena bertemu dengan berbagai suku dan ras. Artinya akan terbiasa menghadapi beragam perbedaan sebagai yang ada di tanah air,” ucpanya.

Dia juga mengajak kepada semua hadirin untuk selalu mendoakan apa yang telah dijalankan oleh pondok peanatren bersama jajaran terus bisa mengembangkan diri dalam proses pembelajaran santri.

“Kami mohon doa untuk kelancaran atas semua yang telah kami kerjakan dan mohon maaf jika ada kekurangan,” katanya.

Selanjutnya, para santri mengikuti proses pembagian tanda kelulusan yang dipandu oleh pembawa acara.

Setiap santri menerima plakat dengan pembacaan keinginannya oleh pembawa acara.

“Ananda Sumayyah Kamilah Marfi dari Tangerang Selatan bercita-cita jadi arsitektur. Hidup adalah wewenangmu, warnailah dengan yang indah,” kata pembawa acara.

Acara dlanjutkan dengan berbagai penampilan para santri pria dalam kecakapan pidato di podium dengan pakaian rapih berjas hitam dan dasi.

Terdengar suara pengucapan bahasa inggris fasih dan memukau para peserta yang berisi tentang semangat perjuangan menjadi santri dan terus belajar.

Demikian juga ada yang berpidato bahasa Arab dengan tema yang sama, ucapannya fasih sekaligus membanggakan.

Sementara untuk pidato bahasa Indonesia oleh santri perempuan dengan pakaian rapih berkrudung coklat, baju terusan krem dan sepatu mengkilat.

Dia membacakan pidato perpisahan kepada semua pengelola pesantren yang telah mendidiknya sampai akhirnya lulus.

“Banyak yang kami terima baik ilmu dan  adab. Mohon maaf atas kenakalan kami tapi para pengasuh tetap sabar. Semoga semua menjadi amal ibadah,” ucapnya.

“Demikian juga kepada orang tua kami yang telah berjuang mencari rezeki untuk bekal kami. Dan tentu saja kepada semua kawan, yakinlah ini semua hanya satu tahapan dari perjalanan panjang” katanya.

Sampai berita ini tayang beragam penampilan masih berlangsung yang menambah suasana pagi cerah itu terasa berkesan. (Red)

 

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com