Beritabanten.com – Siang yang panas di Makassar berubah menjadi momen penuh kekecewaan bagi seorang pria bernama AIH.
Dalam kondisi terluka, dengan kaki berdarah akibat tusukan paku berkarat, AIH mendekati Puskesmas Toddopuli pada sekitar pukul 13.30 Wita, berharap mendapat pertolongan medis yang mendesak.
Namun, harapan itu segera terkubur. Ketika AIH tiba, petugas loket hanya memberikan respons yang jauh dari harapan.
“Tunggu sebentar,” ujar petugas tersebut tanpa rasa urgensi, bahkan menyebutkan bahwa petugas medis yang seharusnya menangani sedang “makan bakso.”
Setelah beberapa menit menunggu, AIH kembali didekati oleh petugas loket yang menyampaikan kabar yang lebih mengecewakan: “Pelayanan sudah tutup.”
AIH yang lelah dan terluka mengungkapkan kekecewaannya. Puskesmas ini, meskipun bukan fasilitas kesehatan utama bagi AIH, seharusnya bisa memberikan pertolongan dalam situasi darurat.
Namun, penolakan yang diterimanya justru membuatnya merasa lebih terluka daripada paku yang menancap di kakinya.
“Seandainya diberi penjelasan dari awal, mungkin saya tidak perlu menunggu lebih lama,” ujarnya dengan nada kecewa.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Makassar, Nursaida Sirajuddin, memberikan teguran kepada pihak Puskesmas Toddopuli.
Ia menilai pelayanan yang diberikan tidak sesuai prosedur dan tidak mencerminkan pelayanan publik yang semestinya.
“Petugas yang menolak seharusnya paham betul bahwa setiap warga berhak mendapat pertolongan medis,” tegas Nursaida.
Kepala Puskesmas Toddopuli, Nurwahidah Rauf, menyampaikan bahwa petugas yang seharusnya bertugas saat itu tengah mengikuti kegiatan di Puskesmas Tamalate dan tidak menggantikan tugasnya dengan baik.
Meskipun ada penjelasan tersebut, bagi AIH, penolakan itu terlalu terlambat. Akhirnya, ia memilih untuk mencari pertolongan medis di klinik lain, membawa pulang kekecewaan mendalam.
Kasus ini menjadi sorotan terkait profesionalisme dan tanggung jawab petugas kesehatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terlebih dalam situasi darurat.
Puskesmas, sebagai fasilitas yang seharusnya menjadi tempat pertama bagi mereka yang membutuhkan pertolongan, kini dihadapkan pada pertanyaan besar mengenai komitmen pelayanan publik yang sesungguhnya. (Nbl)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan