Beritabanten.com — Kritik keras dilontarkan Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Asep Wahyuwijaya, terhadap pemberitaan Tempo yang dinilai menyudutkan partainya. Ia menilai framing yang digunakan bukan sekadar berlebihan, tetapi juga merendahkan mandat publik.

Asep menegaskan, Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, tidak mungkin bertindak gegabah terhadap partai yang dibangunnya dari nol. Menurut dia, NasDem bukan sekadar kendaraan politik, melainkan proyek ideologis yang lahir dari gagasan besar perubahan.

“NasDem didirikan bukan untuk menjadi tempat berkumpul semata, tetapi sebagai gerakan dengan cita-cita besar bagi bangsa,” kata Asep dalam keterangan tersiar luas, ditulia Rabu 15 April 2026.

Ia mengingatkan, dengan basis pemilih belasan juta dan jutaan kader, NasDem telah berkembang menjadi entitas publik. Karena itu, penyederhanaan partai menjadi seolah-olah entitas bisnis dinilai sebagai bentuk reduksi yang menyesatkan.

“Ketika partai diposisikan seperti perusahaan, itu bukan sekadar keliru, tapi merendahkan suara rakyat yang memilih,” ujarnya.

Asep juga menyoroti sosok Surya Paloh yang disebutnya telah “selesai” secara personal dan kini berfokus pada warisan politik. Ia menyinggung pembangunan NasDem Tower di Menteng sebagai simbol investasi jangka panjang bagi partai dan publik.

Namun, ia menekankan bahwa logika korporasi tidak bisa dipaksakan dalam membaca dinamika partai politik.

“Ini bukan PT. Kerja politik tidak tunduk pada logika bisnis,” katanya.

Lebih jauh, Asep menyebut judul dan sudut pandang pemberitaan Tempo telah menggiring persepsi publik secara tidak proporsional.

“Framing seperti itu berpotensi menyesatkan dan merendahkan mandat jutaan pemilih NasDem,” tegasnya.

Dalam konteks relasi politik, Asep menilai hubungan antara Partai NasDem dan Partai Gerindra semestinya dibangun melalui aliansi strategis, bukan sekadar koalisi transaksional.

Ia menegaskan, pendekatan berbasis nilai lebih relevan dibanding pembagian kekuasaan.

Di sisi lain, ia juga menyoroti konsistensi sikap NasDem yang tidak menuntut kursi kabinet, meskipun tetap memberikan dukungan kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Ini soal etika politik. Tahu diri,” ujar Asep.

Menurutnya, sikap yang ditunjukkan Surya Paloh merupakan pelajaran politik penting di tengah praktik kekuasaan yang kerap pragmatis. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com