Beritabanten.com – Fenomena perundungan atau bullying di lingkungan sekolah dinilai masih menjadi persoalan serius yang kerap tidak teridentifikasi secara tepat. Bahkan, dalam banyak kasus, tindakan bullying berlangsung secara halus, tersamarkan, dan tidak disadari oleh pelaku, korban, maupun pihak sekolah.
Direktur Sekolah Alam Bogor, Okwan Himpuni, menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan bullying adalah kesulitan membaca motif di balik tindakan tersebut. Hal ini membuat sejumlah kasus baru terungkap setelah dampaknya sudah meluas terhadap psikologis anak.
“Keberadaan bullying pada anak di sekolah kerap terjadi tanpa disadari. Bahkan banyak siswa dan guru tidak memahami bahwa suatu tindakan sudah masuk dalam kategori bullying. Akibatnya, tanpa sadar mereka bisa terlibat dalam situasi yang berpotensi merugikan anak lain,” ujar Okwan dalam kegiatan bertajuk ‘Semua Anak Berhak Aman di Sekolah’ di Botani Square Bogor, Minggu 12 April 2026.
Ia menjelaskan, bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik atau verbal yang terang-terangan. Dalam praktiknya, perundungan dapat muncul dalam bentuk ejekan halus, pengucilan sosial, tekanan psikologis, hingga pola interaksi yang dianggap biasa namun berdampak pada kondisi mental korban.
Menurutnya, kondisi ini membuat banyak kasus bullying luput dari perhatian karena dianggap sebagai bagian dari dinamika pergaulan anak sekolah sehari-hari.
Lebih lanjut, Okwan menyoroti kompleksitas yang terjadi ketika kasus bullying melibatkan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Dalam situasi tersebut, pemahaman terhadap perilaku anak menjadi semakin penting karena adanya keterbatasan dalam kontrol diri maupun komunikasi.
“Pada kasus yang melibatkan anak berkebutuhan khusus, sering kali terjadi kesulitan dalam membaca motif perilaku. Ada keterbatasan kontrol diri yang membuat tindakan tertentu bisa disalahartikan. Ini berisiko menimbulkan salah paham, bahkan penanganan yang tidak tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kesalahan interpretasi terhadap perilaku anak ABK dapat berujung pada stigma dan penanganan yang tidak adil. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih hati-hati, inklusif, dan berbasis pemahaman psikologis anak.
Okwan juga mengingatkan bahwa pencegahan bullying tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci agar ruang pendidikan benar-benar aman bagi semua anak.
“Kalau kita tidak punya sensitivitas yang sama terhadap tanda-tanda bullying, maka kasusnya akan terus berulang dan sulit diatasi. Padahal dampaknya bisa panjang terhadap perkembangan anak,” tegasnya.
Kegiatan di Botani Square Bogor tersebut menjadi salah satu upaya edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Diskusi juga menyoroti perlunya sistem deteksi dini serta komunikasi yang lebih terbuka antara sekolah dan orang tua dalam menangani dugaan bullying.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ini, diharapkan setiap pihak di lingkungan pendidikan mampu lebih peka terhadap dinamika interaksi anak, sehingga potensi *bullying* dapat dicegah sejak awal sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih serius. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan