Beriitabanten.com – Stasiun KRL Bogor tampak lebih padat dari biasanya pada Minggu sore, 12 April 2026. Arus wisatawan lokal yang menghabiskan akhir pekan di Kota Hujan perlahan kembali menuju Jakarta dan sekitarnya.
Di peron, penumpang berdiri berjejer sambil membawa tas belanja, oleh-oleh, hingga pakaian yang dibeli dari factory outlet di pusat kota.
Di antara mereka,Tri Susanto warga Sunter, Jakarta Timur, tampak menunggu kereta bersama keluarganya. Ia baru saja menghabiskan liburan singkat di Bogor.
“Liburan kali ini kami menginap di apartemen. Ke Kebun Raya, Alun-alun, juga kulineran,” kata Tri Susanto saat ditemui di area stasiun. “Naik KRL tetap nyaman, asal hati-hati saja saat naik turun kereta.”
Bagi Tri Susanto, Bogor kini bukan sekadar kota transit wisata, melainkan destinasi singkat yang lengkap. Mulai dari ruang terbuka hijau seperti Kebun Raya Bogor, pusat keramaian Alun-Alun Kota Bogor, hingga ragam pilihan kuliner yang kian variatif.
Ia menyebut, kuliner di Bogor semakin beragam, tidak hanya makanan khas Nusantara, tetapi juga hidangan dari berbagai negara. “Banyak pilihan, tinggal sesuaikan selera,” ujarnya.
Selain kuliner, pengalaman berbelanja menjadi salah satu agenda utama liburannya. Deretan factory outlet di Kota Bogor menjadi sasaran, terutama karena banyaknya potongan harga yang ditawarkan.
“Harganya terjangkau, apalagi kalau rajin lihat promosi di media sosial,” kata Tri Susanto. Ia menambahkan, berbelanja langsung di toko memberi keuntungan tersendiri. “Kalau online kadang sulit pas ukuran. Kalau datang langsung bisa coba dan pilih yang cocok.”
Biasanya, keluarga ini bepergian menggunakan mobil pribadi. Namun kali ini mereka memilih KRL karena kendaraan sedang berada di bengkel. Pengalaman itu justru memberi kesan berbeda.
“Ternyata naik KRL nyaman dan aman juga,” ujarnya.
Di sisi lain, wajah Stasiun Bogor hari ini telah berubah jauh dibanding satu dekade lalu. Fasilitas seperti toilet, musala, dan area makan kini lebih tertata. Keramaian tetap ada, namun lebih terkendali, dengan sistem layanan yang lebih rapi.
“Sekarang jauh lebih baik. Dulu masih semrawut, banyak pedagang dan isu pencopetan. Sekarang lebih tertib,” kata Tri Susanto sambil mengingat kondisi lama stasiun tersebut.
Menjelang malam, aliran penumpang terus bergerak masuk ke rangkaian KRL. Lampu-lampu peron memantul di lantai yang mulai basah oleh sisa hujan.
Kota Bogor perlahan kembali lengang, sementara warganya yang singgah membawa pulang cerita—tentang liburan singkat, belanja, dan perubahan wajah kota yang kian ramah bagi pelancong akhir pekan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan