Beritabanten.com – Pernyataan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang mewakili pemerintah dalam menanggapi kritik Dino Patti Djalal mengenai tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo Subianto menuai perhatian.

Kritik Dino berfokus pada intensitas perjalanan luar negeri Presiden selama sekitar 1,5 tahun terakhir yang dinilai telah melampaui batas kewajaran.

Namun, alih-alih langsung menjawab substansi kritik tersebut, Teddy justru membuka responsnya dengan menyinggung rekam jejak Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang hanya menjabat selama tiga bulan.

Pernyataan seperti, *”Beliau pernah menjadi Wamenlu, meskipun hanya diberi kesempatan tiga bulan,”* dapat dipersepsikan sebagai upaya menggeser fokus dari substansi kritik ke persoalan kredibilitas pribadi pengkritik.

Dalam komunikasi politik, pendekatan semacam ini berisiko dianggap sebagai serangan terhadap individu, bukan bantahan terhadap argumen yang disampaikan.

Padahal, jika meninjau rekam jejak diplomasi, Dino Patti Djalal memiliki pengalaman panjang di bidang hubungan internasional. Ia berkarier di Kementerian Luar Negeri sejak 1987, pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, menjadi juru bicara kepresidenan, serta menduduki berbagai posisi strategis dalam diplomasi Indonesia.

Rekam jejak tersebut membuat pandangannya mengenai diplomasi dan hubungan luar negeri layak untuk dipertimbangkan secara serius, terlepas dari setuju atau tidak terhadap isi kritiknya.

Efektivitas, Bukan Biaya Pribadi

Dalam penjelasannya, Teddy menyatakan bahwa seluruh biaya di luar anggaran resmi negara selama kunjungan Presiden ditanggung secara pribadi sesuai prosedur.

Pernyataan tersebut pada dasarnya tidak menjadi pokok persoalan. Biaya yang tidak berkaitan dengan agenda resmi negara memang sewajarnya tidak dibebankan kepada anggaran negara.

Yang menjadi pertanyaan utama adalah efektivitas penggunaan anggaran negara untuk kunjungan resmi tersebut. Publik ingin mengetahui hubungan antara frekuensi perjalanan luar negeri Presiden dengan manfaat nyata yang dapat dirasakan masyarakat, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan ekonomi domestik yang mendesak.

Pertanyaan mendasarnya adalah: sejauh mana kunjungan-kunjungan tersebut menghasilkan dampak konkret bagi stabilitas ekonomi nasional, nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, investasi, dan kesejahteraan masyarakat?

Pengurangan Jumlah Rombongan Bukan Jawaban atas Substansi Kritik

Teddy juga menyebut jumlah peserta rombongan Presiden telah berkurang hingga sekitar 50 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Terlepas dari benar atau tidaknya angka tersebut, persoalan utama bukan terletak pada banyak atau sedikitnya anggota rombongan. Fokus kritik justru berada pada frekuensi kunjungan dan urgensi dari setiap perjalanan yang dilakukan.

Publik tidak hanya ingin mengetahui berapa banyak orang yang ikut dalam suatu kunjungan, tetapi juga apa hasil yang diperoleh dari kunjungan tersebut serta bagaimana dampaknya terhadap kepentingan nasional.

Dengan kata lain, efisiensi jumlah peserta tidak otomatis menjawab pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan diplomasi yang dijalankan.

 Tantangan Dalam Negeri yang Masih Menunggu Jawaban

Di tengah berbagai perjalanan luar negeri yang dilakukan Presiden, sejumlah persoalan domestik masih menjadi perhatian publik.

Di antaranya adalah stabilitas nilai tukar rupiah, tekanan terhadap APBN, upaya menjaga kepercayaan investor, peningkatan investasi riil, serta penguatan sektor manufaktur dan produktivitas ekonomi nasional.

Kritik yang muncul mempertanyakan apakah hasil-hasil kunjungan luar negeri tersebut telah mampu memberikan kontribusi yang nyata dan terukur terhadap penyelesaian masalah-masalah tersebut.

Bagi sebagian kalangan, berbagai capaian diplomatik yang diumumkan pemerintah masih belum menunjukkan keterkaitan langsung dengan kebutuhan ekonomi jangka pendek yang dirasakan masyarakat.

Diplomasi Harus Diukur dari Hasil Nyata

Teddy juga menjelaskan bahwa Presiden Prabowo menghadapi situasi global yang penuh tekanan sehingga membutuhkan diplomasi yang lebih aktif melalui kunjungan ke berbagai negara.

Argumen ini pada prinsipnya dapat dipahami. Dalam kondisi geopolitik dan ekonomi global yang kompleks, diplomasi memang menjadi instrumen penting untuk menjaga kepentingan nasional.

Namun, diplomasi pada akhirnya akan dinilai dari hasilnya. Semakin tinggi intensitas kunjungan yang dilakukan, semakin besar pula ekspektasi publik terhadap manfaat yang dihasilkan.

Publik berhak menanyakan apakah kunjungan tersebut berhasil mendatangkan investasi baru yang cepat direalisasikan, memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi ekonomi internasional, membuka akses terhadap kebutuhan strategis nasional, atau meningkatkan stabilitas ekonomi dalam negeri.

Tanpa indikator keberhasilan yang jelas dan terukur, sulit untuk meyakinkan masyarakat bahwa frekuensi perjalanan yang tinggi benar-benar memberikan manfaat yang sebanding dengan sumber daya yang digunakan.

Kritik Perlu Dijawab dengan Argumentasi

Dalam sistem demokrasi, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar. Kritik seharusnya dipandang sebagai masukan untuk memperbaiki kebijakan, bukan sebagai ancaman yang harus direspons dengan upaya melemahkan kredibilitas pihak yang menyampaikan pendapat.

Karena itu, perdebatan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden akan lebih produktif apabila difokuskan pada data, capaian, dan hasil konkret yang dapat diukur. Dengan demikian, publik dapat menilai secara objektif apakah aktivitas diplomasi tersebut memang memberikan manfaat yang signifikan bagi kepentingan nasional.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar pembelaan terhadap kebijakan, melainkan penjelasan yang mampu menunjukkan hubungan langsung antara langkah-langkah diplomasi pemerintah dengan perbaikan kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Dengan pendekatan seperti itu, kritik dan respons pemerintah dapat menjadi bagian dari proses demokrasi yang sehat dan konstruktif. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com