Beritabanten.com – Langit malam di Tel Aviv tak lagi sekadar gelap tapi ia bergetar. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak Iran terus memuntahkan ribuan rudal ke jantung kota Israel.
Sirene meraung panjang, memecah keheningan kota pesisir itu. Warga berlarian, sebagian masih mengenakan pakaian tidur, mencari perlindungan di bunker-bunker beton yang tersebar di antara gedung apartemen.
Di kejauhan, cahaya menyala sesaat, disusul dentuman yang mengguncang kaca jendela.
Serangan rudal dari Iran kembali menghantam Israel—dan Tel Aviv ikut merasakan getarannya.
Dalam gelombang serangan terbaru, rudal-rudal Iran tak hanya menyasar wilayah selatan seperti Arad dan Dimona, tetapi juga menjangkau pusat kehidupan modern Israel.
Di Tel Aviv, setidaknya belasan orang dilaporkan terluka akibat serangan dengan munisi berdaya sebar luas (cluster).
Di Antara Beton dan Ketakutan
Di sebuah apartemen di pusat kota, Yael (34) menggambarkan detik-detik saat sirene berbunyi.
“Kami sudah hafal prosedurnya. Tapi tetap saja, setiap suara ledakan itu berbeda… lebih dekat, lebih nyata.”
Ia menggandeng anaknya menuju ruang perlindungan. Di sana, puluhan orang berdesakan—diam, menunggu, mendengarkan.
Beberapa menit kemudian, suara ledakan terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
Serangan terbaru ini menjadi bagian dari eskalasi konflik yang kian intens antara Iran dan Israel. Iran menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas serangan sebelumnya terhadap fasilitas nuklirnya, sementara Israel menegaskan bahwa wilayah sipil justru menjadi sasaran.
Pertahanan Kropos
Selama bertahun-tahun, sistem pertahanan udara Israel dikenal sebagai salah satu yang paling canggih di dunia. Namun malam itu menunjukkan satu hal: tidak ada sistem yang benar-benar kebal.
Beberapa rudal dilaporkan lolos dari intersepsi dan menghantam area permukiman.
Bahkan, penggunaan munisi cluster membuat ancaman semakin sulit ditangani karena pecahan bom menyebar luas sebelum menyentuh tanah.
Bagi warga, itu berarti satu hal—ancaman bisa datang dari arah mana saja, bahkan setelah ledakan pertama berlalu.
Kota yang Tetap Bernapas
Pagi harinya, Tel Aviv mencoba kembali hidup.
Kafe-kafe perlahan buka. Jalanan mulai dipadati kendaraan. Namun di beberapa sudut, pecahan kaca masih berserakan. Dinding bangunan retak. Dan garis polisi membatasi area yang semalam menjadi titik ledakan.
Di rumah sakit, korban terus berdatangan. Sebagian besar luka akibat pecahan dan reruntuhan bangunan.
Meski begitu, kehidupan tak benar-benar berhenti.
“Ini kota yang keras kepala,” kata seorang relawan medis. “Kami takut, tentu saja. Tapi kami juga terbiasa bangkit.”
Nestapa Belum Pergi
Serangan ini bukan yang pertama, dan tampaknya bukan yang terakhir.
Sejak konflik meningkat beberapa pekan terakhir, rentetan serangan dan balasan terus terjadi, menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah.
Di Tel Aviv, warga kini hidup dalam dua waktu: waktu normal di siang hari, dan waktu siaga setiap malam.
Sirene bisa kembali berbunyi kapan saja.
Dan ketika itu terjadi, kota ini akan kembali berlari—menuju ruang-ruang sempit, membawa harapan sederhana: selamat sampai pagi. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan