Beritabanten.com – Luka Gaza kembali terdengar di Jakarta. Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli, ulama sekaligus akademisi asal Gaza, Palestina, datang ke Kantor Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI dengan membawa kesaksian tentang penderitaan masyarakat Palestina yang masih menghadapi krisis kemanusiaan.

Kunjungan Maher Al-Houli bersama pengurus Yayasan Persahabatan dan Studi Peradaban (YPSP) berlangsung di Kantor BAZNAS RI, Jakarta, Rabu (30/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi tokoh asal Gaza itu untuk menyampaikan kondisi warga di tengah situasi yang disebutnya masih penuh keterbatasan.

Maher tidak berbicara hanya sebagai seorang akademisi atau ulama. Ia datang dengan pengalaman kehilangan yang dialaminya sendiri. Tiga putranya, dua saudara laki-laki, cucu, serta puluhan kerabatnya disebut telah gugur akibat serangan bom di Gaza.

“Saya hadir di hadapan Anda sekalian sebagai gambaran kecil dari penderitaan rakyat Gaza, di mana tiga putra saya, cucu saya, dua saudara laki-laki, beserta puluhan kerabat telah gugur syahid akibat serangan bom,” ujar Maher.

Kehilangan anggota keluarga dalam jumlah besar menjadi bagian dari pengalaman yang ia bawa ketika berbicara mengenai kondisi masyarakat Gaza. Meski demikian, Maher mengatakan dirinya tetap berusaha menjaga keteguhan hati dan memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

“Tiga putra saya, saudara-saudara saya, dan kerabat saya telah syahid, namun demikian di hadapan kondisi ini saya tetap mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin,” katanya.

Menurut Maher, duka akibat kehilangan keluarga memang sangat berat. Namun, penderitaan yang dialami masyarakat Gaza secara luas membuat beban tersebut semakin terasa. Ia menggambarkan kondisi kemanusiaan di Gaza sebagai situasi yang membutuhkan perhatian dan bantuan berkelanjutan.

Ia juga menyoroti persoalan pemakaman para korban. Menurut keterangannya, warga Gaza menghadapi kebutuhan biaya dan material untuk memakamkan jasad para korban yang dievakuasi setelah serangan.

Dalam pertemuan tersebut, Maher juga menyampaikan pesan mengenai keluarga para syuhada dan hubungan mereka dengan masyarakat serta lembaga yang memberikan dukungan kepada Palestina.

Ia berharap para korban yang telah meninggal tetap dikenang dan menjadi bagian dari kepedulian masyarakat internasional terhadap kondisi Gaza.

Sementara itu, Ketua BAZNAS RI Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid mengatakan, kunjungan Maher menjadi kesempatan bagi BAZNAS untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat Gaza dari seseorang yang datang dari wilayah tersebut.

“Hari ini kami kedatangan akademisi langsung dari Gaza, Prof. Dr. Maher Hamed Mohamed Al-Houli yang tiga putranya serta kerabatnya telah wafat syahid akibat bom, untuk menceritakan secara langsung keadaan rakyat Gaza saat ini beserta kebutuhan mereka menghadapi masa depan,” kata Sodik.

BAZNAS menyatakan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat Gaza, terutama menghadapi tantangan kemanusiaan menjelang musim dingin dan Ramadan. Informasi langsung dari pihak yang mengalami situasi di lapangan dinilai penting untuk memahami kebutuhan bantuan yang harus diprioritaskan.

Pertemuan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana pengalaman personal seorang tokoh Palestina dapat menjadi kesaksian mengenai dampak konflik terhadap kehidupan masyarakat sipil. Di balik angka korban dan laporan mengenai krisis kemanusiaan, terdapat keluarga-keluarga yang kehilangan orang-orang terdekat mereka.

Bagi Maher, kehilangan tiga putra dan puluhan anggota keluarga bukan sekadar kisah pribadi. Kesaksian itu menjadi bagian dari cerita panjang masyarakat Gaza yang terus berhadapan dengan dampak konflik dan kebutuhan kemanusiaan.

BAZNAS berharap komunikasi dan kerja sama kemanusiaan dapat terus diperkuat agar dukungan bagi masyarakat Palestina dapat disalurkan sesuai kebutuhan, terutama bagi warga yang berada dalam kondisi paling rentan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com