Beritabanten.com – Presiden ke-7 RI Joko Widodo kembali melakukan safari politik dengan menghadiri sejumlah agenda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Nusa Tenggara Timur pada 1 Agustus 2026.

Dalam kunjungannya tersebut, Jokowi menghadiri Rakorda PSI, bertemu masyarakat, mengikuti kegiatan budaya, hingga menerima gelar adat. Kehadiran Jokowi menjadi perhatian karena sebelumnya ia telah menyatakan komitmennya untuk membantu membesarkan PSI melalui kunjungan ke berbagai daerah di Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan Jokowi saat Rakernas PSI pada 31 Januari 2026. Sejak saat itu, mantan presiden dua periode tersebut terlihat semakin aktif menghadiri berbagai kegiatan yang berkaitan dengan PSI.

Namun, di tengah meningkatnya aktivitas politik Jokowi bersama PSI, hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) justru menunjukkan tantangan besar bagi partai tersebut.

Survei nasional yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026 dan dirilis pada 31 Juli 2026 mencatat elektabilitas PSI berada di angka 4,1 persen. Angka tersebut memang telah melewati ambang batas parlemen sebesar 4 persen, tetapi masih berada pada posisi yang relatif tipis.

Dalam survei yang sama, Gerindra tercatat memperoleh elektabilitas 16,9 persen, disusul PDIP sebesar 11,7 persen, Golkar 9,6 persen, Demokrat 8,1 persen, PKB 5,4 persen, serta NasDem dan PKS masing-masing 4,4 persen. Sementara itu, sebanyak 25,9 persen responden masih belum menentukan pilihan politiknya.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan: jika Jokowi sudah turun langsung membantu PSI, mengapa tingkat dukungan terhadap partai tersebut belum mengalami lonjakan besar?

Dalam politik dikenal istilah coattail effect, yaitu efek popularitas seorang tokoh yang dapat membantu meningkatkan dukungan terhadap partai atau kandidat yang didukungnya. Namun, pengaruh tersebut tidak selalu berjalan otomatis.

Pemilih dapat memiliki pandangan positif terhadap seorang tokoh, tetapi belum tentu langsung mengalihkan dukungan politiknya kepada partai yang diasosiasikan dengan tokoh tersebut.

Hal inilah yang menjadi tantangan bagi PSI. Kedekatan dengan figur populer seperti Jokowi memang menjadi modal politik, tetapi elektabilitas partai tetap bergantung pada kemampuan membangun identitas, gagasan, kader, serta kepercayaan publik.

Dalam sistem politik modern, partai tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan figur. Pemilih juga mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari program yang ditawarkan, rekam jejak partai, kualitas calon, hingga kemampuan organisasi menjangkau masyarakat.

Safari politik Jokowi menunjukkan adanya dukungan dan perhatian terhadap perkembangan PSI. Namun hasil survei SMRC memperlihatkan bahwa popularitas tokoh memiliki batas dalam mengubah pilihan politik masyarakat.

Bagi PSI, kehadiran Jokowi merupakan aset politik yang penting. Tetapi untuk berkembang menjadi kekuatan politik yang lebih besar, partai tersebut tetap membutuhkan fondasi organisasi dan gagasan yang mampu menarik kepercayaan pemilih.

Survei SMRC menjadi gambaran bahwa pengaruh Jokowi masih memiliki daya tarik, tetapi tidak secara otomatis mengubah peta elektoral partai yang didukungnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com