Beritabanten.com – Di Alun-alun Pandeglang pada Rabu sore 1 April 2026 itu menjadi lautan manusia yang berasal dari berbagai penjuru wilayah.

Dari anak-anak yang lari-lari dengan balon warna-warni, remaja yang sibuk merekam dengan ponsel, hingga orang tua yang menatap dengan senyum bangga, semuanya menyatu dalam kegembiraan yang sama.

Aroma kuliner khas Pandeglang—dari peuyeum, kue lupis, hingga sate ikan—menguar di udara, menambah semarak suasana.

Parade budaya dan profesi yang digelar untuk memeriahkan Hari Jadi ke-152 Kabupaten Pandeglang benar-benar menjadi magnet bagi seluruh warga, seolah alun-alun menjadi panggung utama bagi seluruh masyarakat.

Sejak pukul tiga sore, dentuman drum dan iringan musik tradisional mulai menggema. Barisan peserta parade muncul satu per satu.

Perwakilan berbagai profesi dan organisasi hadir: tenaga medis dengan kostum dokter dan perawat lengkap dengan perlengkapan mini, guru-guru yang menampilkan kreativitas melalui tari dan musik.

Ada juga aparat keamanan yang menampilkan simulasi disiplin ala pasukan, hingga seniman dan pelaku UMKM yang menampilkan produk serta atraksi kreatif.

Setiap kelompok membawa ciri khas profesi masing-masing, menciptakan harmoni yang unik antara budaya dan kehidupan sehari-hari.

Kostum peserta memukau. Ada yang mengenakan pakaian adat khas Banten lengkap dengan aksesori berwarna emas dan merah, ada yang menampilkan pakaian modern dengan sentuhan budaya lokal.

Gerakan tari yang energik berpadu dengan alunan musik tradisional dan modern, menciptakan pemandangan yang hidup.

Tak jarang, para penonton ikut menari, tertawa, atau bertepuk tangan, seolah ikut menjadi bagian dari parade itu sendiri.

Tema yang diusung, “Pejuang Tangguh, Religius, Unggul”, terasa begitu nyata di setiap langkah peserta.

Barisan tenaga medis menampilkan aksi simulasi penyelamatan darurat, guru dan murid menampilkan drama pendek tentang nilai pendidikan, sementara pelaku UMKM menunjukkan kreativitas mereka dalam membentuk produk seni dari bahan lokal.

Semua itu menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan dan kemajuan daerah lahir dari kerja keras, ketangguhan, dan nilai religius yang dianut masyarakat Pandeglang.

Lebih dari sekadar pertunjukan, parade ini menjadi momentum untuk melestarikan budaya lokal. Tari-tarian tradisional, alat musik khas, dan simbol-simbol adat diperlihatkan dengan penuh bangga.

Penonton muda terlihat antusias, banyak yang belajar dan mengabadikan setiap gerakan, seolah ingin membawa warisan budaya ini ke generasi berikutnya.

Interaksi antarwarga begitu hangat: para tetangga saling sapa, anak-anak berlari-lari mengejar konvoi parade, dan para pedagang tersenyum sambil menawarkan jajanan khas. Semua itu membangun rasa kebersamaan yang kuat.

Ketika barisan terakhir melintasi alun-alun, tepuk tangan dan sorak-sorai seakan meledak menjadi satu gelombang energi. Kamera dan ponsel merekam momen itu dari segala sudut.

Dari sorak sorai penonton, warna-warni kostum, hingga ritme musik yang terus berdentum, parade ini bukan hanya perayaan; ia adalah cerminan jiwa Pandeglang. Kota ini tampil tangguh, religius, unggul, dan penuh kebanggaan.

Perayaan ini meninggalkan kesan mendalam. Anak-anak pulang dengan mata berbinar, remaja merasa bangga pada identitas budaya mereka, dan orang dewasa merasakan energi baru untuk terus membangun daerah.

Alun-alun yang sebelumnya hanya lapangan terbuka kini terasa seperti panggung kehidupan—tempat semua warga mengekspresikan diri, menunjukkan dedikasi, dan merayakan kebersamaan.

Parade Hari Jadi ke-152 Kabupaten Pandeglang membuktikan bahwa budaya, profesi, dan semangat masyarakat bisa berpadu harmonis dalam sebuah perayaan yang tak terlupakan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com