Beritabanten.com – Indonesia menaruh harapan besar pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai target dicanangkan, mulai dari pengembangan kecerdasan buatan, energi baru terbarukan, ketahanan pangan, hingga industri berbasis inovasi. Semua cita-cita itu membutuhkan satu fondasi yang sama, yakni kehadiran ilmuwan dan peneliti yang berkualitas.

Namun, di balik ambisi tersebut muncul pertanyaan yang jarang dibicarakan. Siapa yang bersedia menempuh jalan panjang menjadi ilmuwan jika kehidupan di dunia akademik belum menawarkan kepastian kesejahteraan?

Menjadi ilmuwan bukan pilihan yang dapat diraih dalam waktu singkat. Seseorang harus menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar, melanjutkan pendidikan hingga magister atau doktor, melakukan penelitian, menulis publikasi ilmiah, dan membangun keahlian yang sangat spesifik. Ketika teman-teman seangkatannya telah memasuki dunia kerja dengan penghasilan tetap, calon peneliti masih berkutat di laboratorium, perpustakaan, atau mengejar beasiswa.

Pengorbanan tersebut semestinya berbuah kehidupan yang layak. Namun kenyataannya, sebagian dosen dan peneliti masih dihadapkan pada pendapatan yang terbatas, status kerja yang belum pasti, serta beban administrasi yang terus bertambah. Mereka dituntut menghasilkan inovasi dan pengetahuan baru, tetapi di saat yang sama harus membagi waktu untuk mengajar, menyusun laporan, bahkan mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi itu berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih besar. Tidak sedikit talenta terbaik yang akhirnya memilih meninggalkan dunia akademik, bukan karena kehilangan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, melainkan karena melihat peluang karier yang lebih menjanjikan di sektor industri, perusahaan teknologi, lembaga internasional, atau bahkan di luar negeri.

Fenomena tersebut dikenal sebagai brain drain, yakni berpindahnya sumber daya manusia berpendidikan tinggi ke tempat yang menawarkan kesempatan dan kesejahteraan lebih baik. Dampaknya memang tidak selalu terasa dalam waktu singkat. Namun jika berlangsung terus-menerus, Indonesia berisiko kehilangan generasi peneliti yang seharusnya melahirkan inovasi, membangun laboratorium, dan membimbing ilmuwan masa depan.

Karena itu, investasi negara pada pendidikan tinggi tidak cukup berhenti pada pemberian beasiswa. Negara juga perlu memastikan adanya ekosistem riset yang sehat, jenjang karier yang jelas, serta kesejahteraan yang mampu membuat para ilmuwan memilih berkarya di dalam negeri.

Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya lulusan doktor. Kemajuan lahir ketika para peneliti memiliki ruang untuk berpikir, bereksperimen, gagal, mencoba kembali, dan tetap dapat menjalani kehidupan yang layak. Sebab di balik setiap penemuan besar, ada ilmuwan yang membutuhkan kepastian hidup agar dapat berkonsentrasi menghasilkan karya.

Pada akhirnya, ketika Indonesia bertanya mengapa riset nasional belum mampu bersaing dengan negara-negara maju, jawabannya mungkin tidak semata-mata terletak pada fasilitas laboratorium atau besarnya anggaran penelitian. Persoalan yang lebih mendasar adalah apakah negeri ini telah menjadikan profesi ilmuwan sebagai pilihan karier yang layak, dihargai, dan cukup menjanjikan bagi generasi terbaik bangsa. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com