Beritabanten.com – Menjadi dosen bukanlah jalan yang singkat. Seseorang harus menempuh pendidikan sarjana, melanjutkan ke jenjang magister, bahkan doktor untuk membangun karier akademik. Prosesnya dapat memakan waktu lebih dari satu dekade. Namun, setelah seluruh gelar diraih, penghasilan yang diterima belum tentu mencerminkan panjangnya perjalanan tersebut.

Persoalannya bukan membandingkan profesi dosen dengan pekerjaan lain yang juga layak memperoleh penghasilan tinggi. Setiap pekerjaan memiliki tingkat kesulitan, risiko, dan nilai ekonominya masing-masing. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa profesi yang menuntut pendidikan tinggi, menghasilkan penelitian, serta mencetak sumber daya manusia justru masih menghadapi persoalan kesejahteraan.

Data Serikat Pekerja Kampus pada 2026 menunjukkan sekitar 42,9 persen dosen dalam basis data mereka menerima pendapatan tetap di bawah Rp3 juta per bulan. Bahkan di sejumlah perguruan tinggi swasta masih ditemukan dosen yang memperoleh penghasilan kurang dari Rp900 ribu setiap bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa gelar akademik yang tinggi belum tentu berbanding lurus dengan jaminan kehidupan yang layak.

Ironi itu terasa semakin nyata ketika dosen mengajarkan mahasiswa tentang masa depan, membimbing skripsi, tesis, hingga disertasi, serta didorong terus meningkatkan kompetensi melalui penelitian dan publikasi ilmiah. Di saat yang sama, tidak sedikit dari mereka yang masih harus mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dalam teori ekonomi, pendidikan dipandang sebagai investasi sumber daya manusia. Seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya dengan harapan memperoleh kemampuan serta kehidupan yang lebih baik di masa depan. Namun, ketika pendidikan hingga jenjang tertinggi masih dihadapkan pada ketidakpastian kesejahteraan, muncul pertanyaan apakah jalur akademik tetap menjadi pilihan yang menarik bagi generasi muda.

Padahal, Indonesia tengah mendorong lahirnya lebih banyak doktor, memperkuat budaya riset, dan membangun perguruan tinggi yang mampu bersaing di tingkat global. Target tersebut akan sulit tercapai apabila dunia akademik belum mampu memberikan kepastian kesejahteraan bagi para tenaga pendidiknya.

Karena itu, persoalannya bukan siapa yang lebih pantas menerima penghasilan tinggi. Yang perlu dijawab adalah sejauh mana negara benar-benar menghargai ilmu pengetahuan dan profesi yang menjadi fondasi lahirnya sumber daya manusia unggul.

Pada akhirnya, gelar doktor memang dapat disematkan di belakang nama. Namun dalam kehidupan sehari-hari, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan tidak cukup diwujudkan melalui gelar atau pengakuan semata. Ketika kebutuhan hidup terus berjalan, pertanyaan yang paling mendasar tetap sama: apakah penghasilan seorang dosen sudah cukup untuk menjalani kehidupan yang layak sesuai tanggung jawab yang diembannya? (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com