Beritabanten.com – Produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat di Kabupaten Lebak dinilai masih belum optimal meski luas arealnya terus bertambah. Pemerintah Kabupaten Lebak kini memprioritaskan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekebun sebagai strategi untuk mendongkrak hasil panen sekaligus mempersiapkan penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan Kabupaten Lebak memiliki sekitar 4.139 hektare kebun sawit rakyat yang dikelola 4.337 pekebun. Menurutnya, potensi tersebut belum diimbangi dengan produktivitas yang maksimal.
Ia menjelaskan, rendahnya hasil panen dipengaruhi banyak faktor, mulai dari tanaman yang telah memasuki usia tua hingga masih terbatasnya penerapan teknik budidaya sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP).
“Minimnya pengetahuan dan keterampilan mengenai budidaya kelapa sawit yang baik menjadi salah satu penyebab produksi dan kualitas sawit rakyat di Kabupaten Lebak masih rendah,” kata Rahmat, dikutip dari faktabanten, saat membuka Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Angkatan II yang digelar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB).
Sebagai upaya meningkatkan produktivitas, Pemkab Lebak terus menjalankan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Program tersebut mengganti tanaman tua dan tidak produktif dengan bibit unggul bersertifikat agar hasil panen meningkat secara berkelanjutan.
Sejak 2018, Kabupaten Lebak telah memperoleh rekomendasi teknis peremajaan seluas 1.166,15 hektare. Hingga kini, realisasi program mencapai 1.119,57 hektare atau sekitar 96 persen yang melibatkan 598 kepala keluarga pekebun di Kecamatan Banjarsari, Cijaku, dan Gunung Kencana.
Rahmat menegaskan, keberhasilan PSR tidak hanya ditentukan oleh luas lahan yang diremajakan. Kemampuan petani mengelola kebun setelah peremajaan menjadi faktor utama peningkatan produktivitas.
“Peremajaan merupakan langkah awal. Setelah itu, kemampuan pekebun dalam mengelola kebun menjadi faktor penentu keberhasilan. Karena itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan program peremajaan,” ujarnya.
Melalui pelatihan yang difasilitasi BPDP, para pekebun mendapatkan materi tentang teknik budidaya, pemupukan, pengendalian gulma, panen dan pascapanen, administrasi perkebunan, hingga penerapan standar ISPO.
Pada tahun ini, sebanyak 150 pekebun ditargetkan mengikuti berbagai pelatihan teknis. Program tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi kewajiban sertifikasi ISPO yang harus dipenuhi kelompok tani, gapoktan, maupun koperasi pekebun paling lambat Maret 2029 sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025.
Rahmat berharap seluruh peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga menerapkan ilmu yang diperoleh di kebun masing-masing dan membagikannya kepada anggota kelompok tani lainnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB), Andi Yusuf Akbar, menilai peningkatan kompetensi petani merupakan investasi jangka panjang bagi industri sawit nasional. Menurutnya, produktivitas sawit rakyat tidak hanya ditentukan bibit unggul, tetapi juga kemampuan pekebun mengelola kebun secara profesional.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten, Dr. Nasir, menambahkan peningkatan kualitas SDM menjadi fondasi pembangunan perkebunan sawit berkelanjutan. Dengan luas perkebunan sawit di Banten mencapai sekitar 18 ribu hektare dan mayoritas dikelola pekebun rakyat, penguatan kompetensi petani dinilai menjadi kunci meningkatkan daya saing komoditas tersebut.
Pemkab Lebak optimistis melalui kombinasi program peremajaan, peningkatan kapasitas SDM, serta pendampingan menuju sertifikasi ISPO, produktivitas sawit rakyat akan terus meningkat dan mampu mendorong kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan