Beritabanten.com – Indonesia dengan lebih dari 280 juta penduduk, jutaan pelajar, mahasiswa, hingga lulusan baru setiap tahunnya, tampak seperti negeri yang tak kekurangan talenta.
Namun di sisi lain, dunia kerja masih mengeluhkan sulitnya menemukan tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai. Di saat yang sama, banyak pencari kerja juga kesulitan mendapatkan pekerjaan. Lalu, apakah Indonesia benar-benar kekurangan orang pintar?
Jawabannya tdak sesederhana itu.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata. Hanya sekitar 18 persen siswa usia 15 tahun yang mencapai tingkat kemampuan minimum dalam matematika. Skor membaca, matematika, dan sains juga mengalami penurunan dibandingkan hasil 2018.
Namun, data tersebut tidak bisa dimaknai sebagai ukuran kecerdasan bawaan masyarakat Indonesia. PISA tidak mengukur apakah suatu bangsa “pintar” atau tidak, melainkan sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, hasil tersebut lebih tepat dibaca sebagai alarm terhadap kualitas sistem pembelajaran.
Masalah Dimulai dari Dasar Pendidikan
Persoalan tidak berhenti di ruang kelas. Konsep learning poverty atau kemiskinan belajar menunjukkan risiko besar ketika anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar tanpa kemampuan membaca dan memahami teks sederhana dengan baik. Mereka mungkin tetap naik kelas dan memperoleh ijazah, tetapi fondasi belajarnya belum terbentuk secara kuat.
Ketika kondisi ini bertemu dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah, muncul kesenjangan yang semakin lebar.
Sebuah studi ketenagakerjaan mencatat sekitar 46 persen perusahaan di Indonesia kesulitan menemukan kandidat yang sesuai, meskipun jumlah pencari kerja tinggi. Inilah paradoks yang terus berulang: lowongan ada, pelamar banyak, tetapi kecocokan keterampilan minim.
Bukan Kekurangan Orang Pintar
Masalah utama Indonesia bukan pada kurangnya orang cerdas, melainkan pada banyaknya potensi yang tidak berkembang secara optimal.
Banyak anak dengan kemampuan baik yang tidak mendapat akses pendidikan berkualitas. Banyak mahasiswa lulus dengan teori, tetapi minim pengalaman praktis. Banyak pekerja yang tidak sempat meningkatkan keterampilan karena sistem pelatihan yang terbatas.
Kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis. Ia dibentuk oleh banyak faktor: gizi, lingkungan keluarga, kualitas sekolah, kompetensi guru, akses teknologi, hingga kesempatan kerja yang relevan. Ketimpangan pada faktor-faktor inilah yang membuat potensi tidak berkembang merata.
Tantangan Besar: Menyelamatkan Potensi
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting bukan apakah Indonesia kekurangan orang pintar, tetapi berapa banyak potensi yang hilang sebelum sempat berkembang.
Berapa banyak anak berbakat yang terhambat kualitas pendidikan? Berapa banyak lulusan yang tidak terserap karena ketidaksesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri? Dan berapa banyak kemampuan yang tertinggal karena tidak pernah mendapat kesempatan untuk diasah?
Negara dengan populasi besar tidak cukup hanya memiliki banyak manusia. Tantangannya adalah memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk berkembang menjadi versi terbaik dari dirinya. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan