Beritabanten.com – Penampilan seorang pejabat atau tenaga ahli pemerintah di ruang publik tidak hanya dinilai dari isi pernyataannya, tetapi juga dari cara ia menjawab kritik. Ketika argumentasi dianggap tidak mampu menjawab substansi persoalan, perhatian publik kerap bergeser dari kebijakan yang dibahas kepada sosok yang menyampaikannya.

Hal itu terlihat setelah Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, tampil dalam podcast Denny Sumargo yang tayang pada 5 Juli 2026. Dalam perbincangan yang juga menghadirkan Dr. Media dan Prof. Dr. Gema tersebut, Ulta memberikan penjelasan mengenai sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).

Potongan video podcast itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagian warganet menilai penjelasan yang disampaikan lebih banyak berisi pembelaan terhadap kebijakan pemerintah daripada menjawab berbagai kritik yang berkembang di masyarakat. Perdebatan pun bergeser, bukan lagi semata mengenai program pemerintah, tetapi juga mengenai kualitas argumentasi yang disampaikan.

Sorotan tersebut muncul karena Ulta dikenal memiliki rekam jejak akademik dan profesional yang panjang. Ia disebut memiliki pengalaman sebagai peneliti di bidang konflik, kontra-terorisme, dan keamanan internasasional, dengan penelitian lapangan di sejumlah wilayah seperti Afghanistan, Filipina Selatan, Aceh, dan Papua. Latar belakang itu membuat publik memiliki ekspektasi tinggi terhadap cara ia menjelaskan sebuah persoalan.

Dalam ruang publik, semakin kuat reputasi intelektual seseorang, semakin tinggi pula harapan masyarakat agar setiap argumentasi dibangun berdasarkan data, analisis, dan penjelasan yang mampu menjawab substansi kritik. Sebaliknya, ketika penjelasan dipersepsikan lebih berfungsi mempertahankan kebijakan, ruang untuk perdebatan justru semakin terbuka.

Di sisi lain, posisi sebagai bagian dari pemerintahan memang membawa tanggung jawab untuk menjelaskan dan mengomunikasikan kebijakan kepada masyarakat. Namun, komunikasi publik yang efektif tidak hanya bergantung pada loyalitas terhadap institusi, melainkan juga pada kemampuan menghadirkan argumentasi yang terbuka, terukur, dan mampu menjawab pertanyaan publik secara meyakinkan.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai sebuah kebijakan mungkin akan berlalu. Namun, cara seorang intelektual menggunakan pengetahuan dan reputasinya di ruang publik sering kali meninggalkan kesan yang lebih lama. Sebab reputasi dibangun melalui proses yang panjang, sementara penilaian publik dapat terbentuk hanya dari satu penampilan ketika menghadapi kritik. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com