Beritabanten.com – Haji 2026 menyisakan pertanyaan tentang apa itu haji mabrur bagi pelaku dan kemanusiaan universal. Ada apa dengan haji mabrur, sampai setiap tahun haji berduyun-duyun ke tanah suci untuk menggapai haji mabrur? Bisakah orang mendapat haji mabrur tanpa ke tanah suci? Atau orang berkali-kali ibadah haji tapi tidak akan mendapatkan haji mabrur?
Jawabannya, ibadah dalam Islam tidak pernah berhenti pada ritual personal semata. Di dalamnya selalu terkandung pesan kemanusiaan yang menautkan hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus dengan sesama. Karena itu, setiap ibadah sejatinya memiliki dimensi sosial yang membuat agama tetap hidup dalam realitas masyarakat.
Dalam tradisi fikih dikenal istilah hikmah at-tasyri’, yakni memahami hikmah di balik suatu ibadah. Pemahaman ini penting agar ibadah tidak hanya dimaknai sebagai kewajiban formal, tetapi juga melahirkan kesadaran moral dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, konsep haji mabrur memiliki hubungan erat dengan kepedulian terhadap sesama.
Kata mabrur berasal dari akar kata birr yang berarti kebaikan. Namun Al-Qur’an menegaskan bahwa kebaikan sejati tidak hanya berupa kesalehan ritual, melainkan juga keberpihakan sosial, seperti kesediaan menafkahkan harta demi membantu mereka yang membutuhkan (QS Ali ‘Imran: 92). Karena itu, kepedulian sosial menjadi bagian penting dari kesalehan dalam Islam.
Spirit tersebut tampak dalam seluruh rukun Islam. Shalat tidak hanya relasi vertikal dengan Tuhan, tetapi juga diuji dalam kepedulian terhadap anak yatim dan kaum miskin sebagaimana ditegaskan dalam QS Al-Ma’un. Puasa melatih empati terhadap penderitaan orang lain, sedangkan zakat menjadi instrumen distribusi kekayaan demi mengurangi ketimpangan sosial. Semua ibadah itu bermuara pada pembentukan kesalehan sosial.
Dalam konteks itulah haji menjadi sangat penting untuk direnungkan. Haji mengandung spirit kesetaraan dan solidaritas manusia. Pakaian ihram menghapus sekat status sosial dan ekonomi, sementara wukuf di Arafah menghadirkan simbol persamaan manusia di hadapan Tuhan. Larangan-larangan selama ihram juga mengandung pesan etis tentang pengendalian diri, penghormatan terhadap kehidupan, dan kepedulian terhadap sesama.
Namun realitas sosial sering kali menunjukkan paradoks. Jumlah jamaah haji terus meningkat, tetapi belum selalu diiringi dengan tumbuhnya sensitivitas sosial terhadap kemiskinan dan ketimpangan. Haji kerap berhenti pada simbol status spiritual, tanpa menghadirkan transformasi sosial yang nyata.
Padahal, haji mabrur seharusnya melahirkan perubahan sikap dan orientasi hidup. Mereka yang telah berhaji semestinya semakin peduli terhadap kaum lemah dan aktif menghadirkan keadilan sosial di tengah masyarakat. Sebab substansi ibadah tidak hanya terletak pada ritualnya, tetapi pada nilai kemanusiaan yang dihidupkan setelahnya.
Dalam tradisi sufistik, terdapat kisah tentang sepasang suami-istri yang membatalkan keberangkatan hajinya demi membantu orang yang kelaparan. Kisah ini bukan untuk menegasikan kewajiban haji, melainkan menegaskan bahwa inti ibadah adalah menghadirkan kepedulian terhadap sesama manusia.
Pada akhirnya, haji mabrur bukan sekadar status spiritual, tetapi komitmen moral untuk menghadirkan kepedulian, keadilan, dan keberpihakan kepada mereka yang lemah. Jika nilai-nilai itu benar-benar dihidupkan, maka haji tidak hanya menjadi perjalanan spiritual individual, tetapi juga energi sosial untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan