Beritabanten.com — Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah Ploso, Kediri, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, mengungkapkan kekecewaannya setelah mengetahui namanya dicantumkan dalam buku berjudul Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.

Gus Kautsar menjelaskan, pencantuman namanya bermula dari sebuah wawancara yang berlangsung sekitar pertengahan 2024. Saat itu, seorang utusan dari salah satu penulis buku datang ke Ponpes Al Falah Ploso bersama keluarganya dan melakukan perbincangan dengannya.

Menurut Gus Kautsar, dalam pertemuan tersebut dirinya ditanya mengenai sejumlah persoalan terkait kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta posisi dan peran pesantren dalam merawat sekaligus mengisi kemerdekaan Indonesia.

“Jadi bukan masalah keberatan atau tidak. Kita itu tahun 2024, pertengahan, ada orang utusan salah satu penulis itu datang ke sini. Kemudian tanya terkait keindonesiaan, bagaimana posisi pesantren, merawat kemerdekaan,” kata Gus Kautsar, Senin (7/9/2026).

Ia mengakui bahwa dalam pembicaraan tersebut terdapat pembahasan mengenai sejumlah program pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto. Namun, Gus Kautsar menegaskan dirinya tidak mengetahui bahwa wawancara tersebut kemudian digunakan sebagai materi dalam sebuah buku yang secara khusus membahas Islam dan Prabowo.

Gus Kautsar mengatakan, saat wawancara berlangsung, tidak ada penjelasan kepadanya bahwa percakapan tersebut merupakan bagian dari penyusunan buku berjudul Islam Ala Prabowo.

“Kita nggak ngerti kalau kemudian berjudul seperti ini. Kita tidak sadar,” ujarnya.

Pernyataan Gus Kautsar tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dipermasalahkan bukan semata-mata mengenai isi buku atau pandangannya terhadap Prabowo, melainkan konteks dan penggunaan hasil wawancara yang menurutnya tidak diketahui sejak awal.

Kasus ini sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai etika pencantuman nama dan penggunaan pernyataan narasumber dalam sebuah karya publikasi, khususnya ketika materi wawancara kemudian ditempatkan dalam konteks atau judul yang tidak diketahui oleh narasumber sebelumnya.

Persoalan tersebut juga memperlihatkan pentingnya keterbukaan antara penulis dan narasumber dalam proses penyusunan sebuah karya. Terlebih, ketika nama seorang tokoh dicantumkan dalam buku yang membawa tema politik dan keagamaan, konteks penggunaan pernyataan dapataktahuan mengenai penggunaan wawancara tersebut dalam buku Islam Ala Prabowo. Sementara itu, substansi wawancara mengenai kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta peran pesantren tetap menjadi bagian dari konteks yang perlu dilihat secara utuh agarman Al-Kautsar, Ponpes Al Falah Ploso, Kediri, Islam Ala Prabowo, Prabowo Subianto, buku Islam Ala Prabowo, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, mengungkapkan kekecewaannya setelah mengetahui namanya dicantumkan dalam buku Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Gus Kautsar menyebut dirinya tidak mengetahui bahwa wawancara yang dilakukan sekitar perteng memengaruhi persepsi publik terhadap posisi narasumber.

Dengan demikian, keberatan Gus Kautsar lebih berkaitan dengan ketidaktahuan mengenai penggunaan wawancara tersebut dalam buku Islam Ala Prabowo. Sementara itu, substansi wawancara mengenai kebangsaan, keberagaman, kebinekaan, serta peran pesantren tetap menjadi bagian dari konteks yang perlu dilihat secara utuh agar tidak menimbulkan kesan yang berbeda dari maksud awal narasumber. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com