Beritabanten.com – Sebuah peristiwa yang melibatkan petugas keamanan (satpam) dan pengemudi Toyota Alphard di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, menjadi perhatian publik setelah video mediasi keduanya viral di media sosial. Dalam peristiwa tersebut, satpam terlihat bersujud meminta maaf kepada pengemudi Alphard setelah sebelumnya terjadi adu mulut akibat teguran terkait dugaan pelanggaran lalu lintas.

Mengutip pemberitaan Kompas, peristiwa itu bermula ketika seorang satpam menegur pengemudi Alphard yang diduga menerobos lampu lalu lintas di kawasan Bundaran HI. Perselisihan kemudian berujung pada proses mediasi di Pos Polisi Thamrin. Dalam proses tersebut, satpam tampak bersujud meminta maaf kepada pengemudi kendaraan tersebut.

Terlepas dari bagaimana kronologi perselisihan itu terjadi, ada satu pertanyaan yang mengusik rasa keadilan masyarakat: mengapa seorang satpam harus sampai bersujud di hadapan pengemudi mobil mewah? Memangnya pengemudi Alphard itu Tuhan?

Meminta maaf merupakan sikap terpuji apabila seseorang melakukan kesalahan. Namun, permintaan maaf tidak seharusnya identik dengan merendahkan martabat diri. Permintaan maaf yang tulus dapat disampaikan dengan sikap sopan tanpa harus menghilangkan kehormatan seseorang sebagai sesama manusia.

Dalam negara yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, tidak ada warga negara yang memiliki derajat lebih tinggi hanya karena harta, jabatan, atau kendaraan yang dimiliki. Mobil mewah bukanlah simbol kekuasaan yang membuat orang lain harus tunduk atau kehilangan harga diri.

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa budaya feodalisme masih memiliki ruang dalam kehidupan sosial masyarakat. Masih terdapat anggapan bahwa seseorang dengan status ekonomi lebih tinggi memiliki posisi yang lebih kuat, sementara pihak lain merasa harus mengalah demi menghindari konflik.

Padahal, penghormatan kepada sesama manusia tidak boleh berubah menjadi bentuk penghambaan kepada manusia lainnya. Setiap orang memiliki kedudukan dan martabat yang sama di hadapan hukum maupun nilai kemanusiaan.

Jika satpam memang melakukan kesalahan, meminta maaf merupakan langkah yang tepat. Namun, tidak ada alasan yang membenarkan seseorang harus bersujud kepada sesama manusia. Sujud adalah bentuk penghambaan kepada Tuhan, bukan kepada manusia karena kepemilikan kendaraan, jabatan, maupun kekayaan.

Peristiwa di Bundaran HI tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa hukum dan etika harus berdiri di atas prinsip kesetaraan. Seseorang yang berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, maupun menggunakan mobil bernilai miliaran rupiah tetap memiliki martabat yang sama.

Tidak ada manusia yang pantas diperlakukan lebih tinggi hanya karena kendaraan yang dikendarainya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com