Beritabanten.com – Perguruan tinggi di Indonesia terus berlomba meningkatkan reputasi di tingkat global. Targetnya tidak lagi sekadar meluluskan mahasiswa, tetapi juga masuk dalam pemeringkatan internasional, memperbanyak publikasi ilmiah bereputasi, meningkatkan sitasi, hingga menghasilkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.

Di balik ambisi tersebut, tersimpan kenyataan yang tak selalu terlihat. Ketika kampus sibuk mengejar pengakuan internasional, tidak sedikit dosen yang justru masih berjuang mencari tambahan penghasilan agar kebutuhan hidup keluarganya tetap terpenuhi.

Untuk mewujudkan reputasi akademik yang lebih baik, dosen dituntut menjalankan beragam tugas sekaligus. Mereka harus mengajar, meneliti, menulis artikel ilmiah, membimbing mahasiswa, mengikuti seminar dan konferensi, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, hingga menyelesaikan berbagai pekerjaan administrasi. Seluruhnya memiliki target, tenggat waktu, dan ukuran kinerja yang harus dipenuhi.

Namun, tuntutan yang terus meningkat itu belum selalu diiringi dengan kesejahteraan yang memadai. Data Serikat Pekerja Kampus pada 2026 menunjukkan sekitar 42,9 persen dosen dalam basis data mereka masih menerima pendapatan tetap di bawah Rp3 juta per bulan. Kondisi tersebut membuat sebagian akademisi memilih mencari pekerjaan tambahan di luar aktivitas mengajar.

Di sinilah ironi pendidikan tinggi muncul. Kampus berharap dosennya produktif menghasilkan publikasi dan riset berkualitas internasional, sementara sebagian tenaga pendidiknya harus membagi waktu dan tenaga untuk memperoleh penghasilan tambahan. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca, berdiskusi, atau mengembangkan penelitian sering kali tersita oleh pekerjaan lain.

Tentu, target menuju universitas berkelas dunia merupakan langkah yang patut diapresiasi. Pemeringkatan internasional dapat menjadi pemacu peningkatan mutu pendidikan dan penelitian. Namun, kualitas sebuah universitas pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh angka sitasi atau posisi dalam daftar peringkat, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia yang menghidupkannya.

Tradisi riset yang kuat membutuhkan ruang untuk berpikir. Penelitian memerlukan ketenangan, konsentrasi, akses terhadap sumber pengetahuan, serta dukungan yang memadai. Ketika energi dosen lebih banyak tercurah untuk mempertahankan kondisi ekonomi, produktivitas akademik berisiko berubah menjadi sekadar pemenuhan target administratif.

Karena itu, cita-cita membangun universitas kelas dunia semestinya berjalan beriringan dengan upaya meningkatkan kesejahteraan para akademisi. Negara maupun perguruan tinggi tidak cukup hanya menetapkan standar internasional dalam penelitian, tetapi juga perlu memastikan para dosen memiliki kondisi yang memungkinkan mereka menghasilkan karya terbaik.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah universitas bukan hanya diukur dari banyaknya publikasi atau tingginya peringkat internasional. Kampus yang benar-benar unggul adalah kampus yang mampu memberi ruang bagi para dosennya untuk berpikir, meneliti, dan berinovasi tanpa terus dibayangi persoalan memenuhi kebutuhan hidup. Sebab, sulit berharap lahirnya riset kelas dunia jika para penelitinya masih disibukkan mengejar tambahan penghasilan. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com