Beritabanten.com – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menggelar Kompetisi BAZNAS Santripreneur Klaster Fashion bertema “Brand Santri Mengguncang Dunia” di salah satu hotel kawasan Gajah Mada, Jakarta, pada 25–29 Juni 2026.

Kegiatan yang diikuti 50 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia itu menjadi ajang pelatihan sekaligus penilaian kompetensi bagi para duta santri.

Peserta yang memenuhi standar akan memperoleh sertifikasi sesuai bidang yang diikuti.

Pimpinan BAZNAS RI, Idy Muzayyad, menjelaskan program Kompetisi BAZNAS Santripreneur dirancang untuk mendorong transformasi santri dari mustahik (penerima zakat) menjadi muzaki (pembayar zakat), atau minimal menjadi munfiq (orang yang gemar berinfak).

“Muzaki adalah kelompok yang telah memenuhi kewajiban mengeluarkan zakat, sedangkan munfiq adalah mereka yang gemar bersedekah atau berinfak sesuai kemampuan yang dimiliki,” ujar Idy, Kamis 25 Juni 2026.

Menurutnya, infak memiliki ketentuan yang lebih fleksibel dibanding zakat yang mensyaratkan batas minimal harta atau nisab tertentu.

Idy menegaskan, program Santripreneur sengaja didesain BAZNAS untuk melahirkan santri yang tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha yang mandiri dan produktif.

Menurut Idy, peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan penting bagi para santri agar mampu bersaing di tengah perkembangan dunia usaha yang semakin dinamis.

Selain memiliki pengetahuan keagamaan yang kuat, santri juga perlu dibekali kemampuan manajerial, pemasaran digital, pengelolaan keuangan, hingga inovasi produk agar mampu menciptakan usaha yang berkelanjutan.

Ia menilai, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat. Dengan jumlah santri yang besar dan tersebar di berbagai daerah, penguatan kompetensi kewirausahaan akan melahirkan generasi muda yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Karena itu, BAZNAS terus mendorong lahirnya santri-preneur yang memiliki daya saing tinggi dan mampu memanfaatkan peluang usaha di era digital.

Melalui peningkatan keterampilan dan pendampingan yang berkelanjutan, para santri diharapkan dapat membangun usaha yang berkembang, menciptakan lapangan pekerjaan, serta berkontribusi dalam memperkuat ekonomi nasional.

Ia menambahkan, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, juga tengah mendorong pengembangan program kewirausahaan di lingkungan pesantren agar terus berkembang sesuai potensi dan keterampilan masing-masing santri.

Untuk mendukung pengembangan usaha, para santri berpeluang memperoleh akses permodalan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) dengan memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan.

“Teman-teman harus memiliki komitmen yang kuat untuk terus meningkatkan kemampuan, terutama dalam memenuhi standar produk halal dari hulu hingga hilir. Dengan begitu, produk yang dihasilkan memiliki kualitas dan jaminan yang baik ketika dipasarkan,” katanya.

Melalui peningkatan kompetensi dan akses permodalan tersebut, BAZNAS berharap para peserta mampu meningkatkan taraf ekonomi sehingga bertransformasi dari penerima bantuan menjadi pihak yang mampu memberikan bantuan melalui zakat maupun sedekah.

Kepada seluruh peserta yang berasal dari berbagai pesantren di Indonesia, Idy meminta agar mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai guna memperoleh manfaat maksimal bagi pengembangan usaha masing-masing.

“Saya minta teman-teman serius mengikuti pelatihan ini agar ilmu yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha di masa depan,” pesannya.

Dalam kompetisi tersebut, panitia akan memilih 10 peserta terbaik dan tiga peserta terbaik utama berdasarkan sejumlah indikator penilaian, mulai dari aspek spiritual, kualitas proposal usaha, hingga kemampuan presentasi.

Idy menambahkan, peserta yang berhasil masuk dalam 10 besar akan mendapatkan pendampingan serta kesempatan untuk dipromosikan guna memperoleh akses permodalan bagi pengembangan usahanya.

“Peserta yang masuk 10 besar akan kami dorong dan rekomendasikan untuk mendapatkan akses permodalan sehingga usaha yang dirintis dapat berkembang lebih cepat,” ujarnya.

Idy juga mengingatkan bahwa aspek spiritual menjadi bagian penting dalam penilaian.

“Coba dicatat siapa saja yang melaksanakan puasa Muharam selama kegiatan berlangsung. Itu menjadi bagian dari penilaian dengan bobot 25 persen. Karena ini merupakan kompetisi, tentu seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemenang,” pungkasnya. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com