Beritabanten.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (26/6/2026) pagi, rupiah sempat berada di level Rp17.977 per dolar AS atau melemah 62 poin (0,35 persen) dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.915 per dolar AS.

Berdasarkan data Wise.com hingga pukul 09.41 WIB, pergerakan rupiah berada dalam kisaran Rp17.920 hingga Rp18.047 per dolar AS. Posisi tersebut semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang belakangan menjadi perhatian pelaku pasar.

Data juga menunjukkan nilai pmbukaan perdagangan berada di level Rp17.900,7 per dolar AS. Seiring berjalannya transaksi pagi, dolar AS terus menguat sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Secara historis, tekanan terhadap rupiah juga masih berlanjut. Dalam sepekan terakhir, kurs USD/IDR meningkat 1,07 persen. Kenaikan dengan besaran yang sama juga terjadi dalam satu bulan terakhir.

Dalam periode tiga bulan, dolar AS telah menguat 6,33 persen terhadap rupiah. Sementara dalam enam bulan naik 7,25 persen dan dalam satu tahun melonjak hingga 10,90 persen.

Data Wise.com mencatat rentang pergerakan USD/IDR selama 52 minggu terakhir berada di kisaran Rp16.085 hingga Rp18.197,5 per dolar AS. Dengan posisi saat ini di Rp17.977 per dolar AS, rupiah berada tidak jauh dari level tertinggi pelemahannya dalam setahun terakhir.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai pelemahan rupiah berpotensi memperbesar tekanan terhadap sektor energi nasional. Menurutnya, selain dipengaruhi harga minyak dunia, biaya energi juga sangat ditentukan oleh nilai tukar rupiah karena Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM).

“Harga minyak yang tinggi berada di luar faktor pemerintah, tapi nilai tukar rupiah yang melemah berada dalam kendali pemerintah dan Bank Indonesia, sehingga punya andil besar terhadap penyesuaian harga BBM,” ujar Bhima, dikutip dari listrikindoneaia, Jumat 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan, ketika rupiah bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS, biaya impor BBM otomatis meningkat karena kebutuhan dolar AS menjadi lebih besar. Kondisi tersebut berpotensi menambah beban subsidi energi sekaligus meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara.

Karena itu, pergerakan rupiah tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap biaya impor energi, kebijakan subsidi pemerintah, hingga stabilitas harga berbagai komoditas strategis yang diperdagangkan menggunakan dolar AS. (Red)

Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com