Beritabanten.com – Ada pemandangan aneh di pasar kerja Indonesia. Jutaan orang sibuk mencari pekerjaan, sementara perusahaan mengaku kesulitan mencari orang yang tepat. Yang satu mengirim lamaran ke mana-mana, yang lain membuka lowongan berulang kali. Sama-sama mencari, tetapi entah mengapa keduanya seperti terus gagal bertemu.
Riset Populix dan KitaLulus pada 2024 menemukan 46 persen perusahaan kesulitan mendapatkan kandidat yang sesuai kebutuhan. Pada periode yang sama, jumlah pengangguran Indonesia masih mencapai jutaan orang. Ini menunjukkan persoalannya bukan sekadar ada atau tidaknya manusia yang tersedia, melainkan adanya jarak antara kemampuan pencari kerja dan kriteria yang dibutuhkan perusahaan.
Jarak itu sebenarnya sudah terlihat sejak bangku sekolah. Hasil PISA 2022 menunjukkan hanya 18 persen siswa Indonesia usia 15 tahun yang mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika. Angka itu jauh di bawah rata-rata negara OECD sebesar 69 persen. Data tersebut bukan bukti bahwa orang Indonesia tidak pintar, tetapi menjadi alarm bahwa terlalu banyak anak belum mendapatkan fondasi kemampuan dasar yang kuat.
Masalah kemudian berlanjut hingga perguruan tinggi dan dunia kerja. Ada lulusan yang memiliki ijazah tetapi kurang pengalaman praktis, sementara perusahaan sering menginginkan kandidat yang siap bekerja sejak hari pertama. Perusahaan meminta pengalaman untuk pekerjaan pemula, sedangkan pencari kerja membutuhkan pekerjaan pertama agar bisa mendapatkan pengalaman. Pasar kerja akhirnya menciptakan teka-teki yang jawabannya sulit ditemukan oleh orang yang baru lulus.
Inilah yang disebut skills mismatch, ketika keterampilan yang dimiliki tenaga kerja tidak sepenuhnya cocok dengan kebutuhan pekerjaan yang tersedia. Indonesia bukan kekurangan manusia dan belum tentu kekurangan orang pintar. Persoalannya, terlalu banyak potensi yang tumbuh di jalur yang tidak terhubung dengan kebutuhan nyata, sementara perubahan teknologi dan industri bergerak lebih cepat daripada pendidikan dan pelatihan.
Karena itu, lucu sekaligus menyedihkan jika semua kesalahan hanya dibebankan kepada pencari kerja. Mereka diminta sekolah tinggi, menguasai bahasa asing, memahami teknologi, punya pengalaman, mampu bekerja dalam tim, tahan tekanan, dan kadang tetap harus menerima gaji yang tidak jauh dari batas minimum. Di sisi lain, perusahaan juga berhak mencari pekerja yang benar-benar mampu menjalankan tugas. Kedua pihak memiliki alasan, tetapi sistem yang seharusnya mempertemukan mereka belum bekerja dengan baik.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Negeri ini lebih mungkin kekurangan jembatan yang menghubungkan sekolah dengan pekerjaan, teori dengan praktik, dan potensi dengan kesempatan. Selama pendidikan, pelatihan, kebutuhan industri, dan penciptaan lapangan kerja berjalan di jalurnya masing-masing, paradoks ini akan terus berulang.
Jutaan orang akan terus bertanya, “Di mana pekerjaan?” Perusahaan akan terus bertanya, “Di mana orang yang tepat?” Padahal mungkin masalah terbesarnya bukan karena keduanya tidak ada. Mereka hanya hidup dalam sistem yang belum pandai mempertemukan satu sama lain. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan