Beritabanten.com – Kampus terus mendorong dosen menghasilkan riset berkualitas. Publikasi ilmiah, inovasi, paten, hingga reputasi perguruan tinggi di tingkat internasional menjadi target yang terus dikejar.
Namun, di balik ambisi tersebut tersimpan persoalan mendasar yang sering luput dari perhatian: bagaimana dosen dapat fokus meneliti jika sebagian waktunya justru dihabiskan untuk mencari tambahan penghasilan?
Bagi banyak dosen, mengajar di kampus bukan lagi satu-satunya pekerjaan. Ada yang menjadi konsultan, mengajar di perguruan tinggi lain, mengisi pelatihan, menjalankan usaha, hingga mengambil berbagai pekerjaan sampingan.
Langkah itu bukan semata-mata untuk mengejar penghasilan lebih besar, melainkan karena pendapatan utama belum selalu mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Di sinilah ironi dunia pendidikan tinggi terlihat. Dosen dituntut terus membaca, menulis, menghasilkan publikasi ilmiah, membimbing mahasiswa, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif. Seluruh tugas tersebut membutuhkan waktu, energi, dan konsentrasi yang tidak sedikit.
Masalahnya, penelitian bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan di sela-sela kelelahan. Riset membutuhkan ruang untuk berpikir, mengumpulkan data, berdiskusi, menguji gagasan, hingga menyusun temuan secara mendalam. Ketika energi terbaik seorang akademisi habis untuk bertahan secara ekonomi, sulit mengharapkan lahirnya penelitian yang benar-benar berkualitas.
Tentu, pekerjaan di luar kampus tidak selalu berdampak negatif. Pengalaman profesional justru dapat memperkaya perspektif dosen dan membuat proses pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.
Persoalan muncul ketika pekerjaan tambahan bukan lagi pilihan untuk mengembangkan diri, melainkan kebutuhan agar roda kehidupan keluarga tetap berputar.
Indonesia memiliki cita-cita membangun perguruan tinggi berkelas dunia. Namun, universitas unggul tidak hanya dibangun dengan gedung megah, laboratorium modern, atau target pemeringkatan internasional. Kampus juga membutuhkan dosen yang memiliki cukup ruang untuk berpikir, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Karena itu, kesejahteraan dosen tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan pribadi. Kondisi ekonomi para akademisi berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan, penelitian, dan inovasi yang dihasilkan. Sulit berharap ilmu pengetahuan berkembang pesat jika para penelitinya masih disibukkan mencari cara memenuhi kebutuhan hidup setiap bulan.
Pada akhirnya, dosen memang mampu menjalankan banyak peran sekaligus. Mereka tetap mengajar, membimbing mahasiswa, memenuhi target akademik, bahkan mencari pekerjaan tambahan.
Namun pertanyaan besarnya tetap belum terjawab: jika sebagian besar waktu mereka habis untuk bertahan hidup, kapan dosen memiliki kesempatan menjalankan tugas yang paling mendasar sebagai seorang akademisi, yakni berpikir dan menghasilkan pengetahuan baru? (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan