Penulis: Ahmad Hamdani, Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Beritabanten.com – Ramadhan 2026 selalu datang dengan pesan kesederhanaan. Kita diajak menahan lapar, menata hati, dan mengurangi nafsu.
Namun ada satu ironi yang sering luput kita sadari: saat siang kita belajar menahan diri, malam justru sering berubah menjadi pesta konsumsi.
Meja berbuka penuh makanan. Kantong plastik menumpuk. Kemasan sekali pakai berserakan. Setelah kenyang, yang tersisa bukan hanya piring kotor—tetapi juga jejak sampah… dan doa-doa yang tercecer.
Di banyak kota, volume sampah rumah tangga naik sekitar 10–12 persen selama Ramadan. Penyebabnya sederhana: konsumsi meningkat, plastik bertambah, sisa makanan menumpuk.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu napas bumi yang tersengal. Itu selokan yang tersumbat. Itu sungai yang membawa plastik ke laut.
Kita ingin berbagi takjil, tapi kadang lupa pada bungkusnya. Kita ingin pahala, tapi lalai pada jejaknya. Seperti memberi minum dengan tangan kanan, tapi meneteskan racun dengan tangan kiri.
Padahal Allah Swt. sudah mengingatkan dalam firman-Nya:
_”Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31)._ Ramadan bukan hanya menahan lapar. Ia menahan keinginan berlebihan—termasuk membeli, memasak, dan membuang.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: _”Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)._ Keindahan itu bukan cuma sajian di meja. Ia juga jalan bersih, halaman masjid tanpa plastik, sungai yang tidak memikul dosa kita.
Bayangkan seorang relawan menyiapkan 200 paket takjil. Ia berharap pahala. Tapi setelah jamaah pulang, halaman masjid dipenuhi gelas plastik. Angin membawa bungkus ke selokan.
Air hujan menyeretnya ke sungai. Di situ ia sadar: takjilnya sampai, tapi doanya tersangkut di tumpukan sampah.
Doa yang tercecer itu seperti surat tanpa alamat. Ia ditulis dengan niat baik, tapi tercebur dalam kelalaian kecil yang kita anggap sepele.
Allah Swt. mengingatkan lagi: _”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)._ Ayat ini seperti alarm lembut di hati. Ramadan bukan hanya soal pahala pribadi, tapi amanah bersama.
Rasulullah ﷺ juga bersabda: _”Iman itu memiliki cabang… yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Memungut sampah di halaman masjid pun bagian dari iman. Mengurangi plastik, bagian dari zikir yang diam-diam dicatat.
Kita tak perlu menunggu jadi aktivis. Mulai dari rumah. Masak secukupnya. Bawa wadah sendiri saat berbagi.
Kurangi plastik sekali pakai. Ajak anak membersihkan sisa takjil. Langkah kecil, tapi seperti menutup keran bocor—pelan, tapi menyelamatkan.
Ramadan mestinya seperti hujan rahmat, bukan banjir sampah. Seperti doa yang naik ringan, bukan doa yang tercecer di selokan.
Semangkuk takjil seharusnya mengenyangkan perut dan menenangkan bumi. Memberi tanpa merusak. Berbagi tanpa melukai.
Karena mungkin kelak Allah tidak hanya bertanya berapa banyak sedekah kita, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah-Nya—agar takjil sampai ke tangan manusia, dan doa sampai ke langit tanpa tersangkut di sampah plastik yang kita tinggalkan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan