Penulis: Iin Fatmawati, Mahasiswa Doktoral Ilmu Gizi IPB University
Beritabanten.com – Provinsi Banten adalah salah satu wilayah strategis di Indonesia. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Jakarta menjadikan Banten sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, industri, perdagangan, dan jasa.
Namun di balik pesatnya pembangunan tersebut, terdapat tantangan besar yang tidak boleh diabaikan: penyusutan lahan pertanian, tekanan lingkungan yang meningkat, serta persoalan gizi yang masih terjadi di berbagai kelompok masyarakat. Ketiga isu ini saling berkaitan dan pada akhirnya menentukan masa depan Banten.
Sering kali kita membayangkan pembangunan sebagai deretan gedung baru, kawasan industri yang tumbuh, dan jalan-jalan yang semakin lebar. Namun, masa depan sebuah daerah sebenarnya ditentukan oleh sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: apa yang tersaji di meja makan warganya. Pangan yang cukup, gizi yang baik, dan lingkungan yang sehat adalah fondasi pembangunan berkelanjutan yang tidak bisa ditawar.
Ketahanan Pangan: Bukan Sekadar Produksi
Selama bertahun-tahun, kebijakan pangan di banyak daerah, termasuk Banten, lebih menekankan pada peningkatan produksi. Pendekatan ini memang penting, tetapi tidak lagi memadai untuk menjawab kompleksitas persoalan pangan saat ini. Produksi yang tinggi belum tentu menjamin akses masyarakat terhadap pangan bergizi. Banyak rumah tangga tinggal di wilayah dengan ketersediaan pangan melimpah, tetapi tetap kesulitan memperoleh pangan berkualitas karena daya beli rendah atau distribusi yang tidak merata.
Di Banten, tantangan ini semakin terasa. Industrialisasi dan urbanisasi yang cepat mendorong kebutuhan lahan untuk permukiman dan kawasan industri. Lahan pertanian produktif terdesak oleh pembangunan fisik.
Jika tren ini terus berlanjut tanpa pengendalian, Banten akan semakin bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Ketergantungan ini meningkatkan kerentanan terhadap gejolak harga dan gangguan distribusi, terutama ketika terjadi krisis nasional atau global.
Ketahanan pangan bukan lagi sekadar kemampuan memproduksi beras atau komoditas tertentu. Ketahanan pangan adalah kemampuan menjamin bahwa seluruh masyarakat memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, bergizi, dan terjangkau setiap saat.
Gizi: Investasi Jangka Panjang untuk Generasi Masa Depan
Ketahanan pangan tidak akan bermakna tanpa ketahanan gizi. Tujuan akhir dari sistem pangan adalah terciptanya masyarakat yang sehat, produktif, dan mampu berkontribusi pada pembangunan. Namun, persoalan gizi di Banten masih menunjukkan tantangan yang tidak kecil: stunting, gizi kurang, hingga overweight dan obesitas.
Permasalahan gizi tidak hanya disebabkan oleh kekurangan pangan, tetapi juga oleh rendahnya kualitas konsumsi dan pola makan masyarakat. Anak-anak yang tidak memperoleh gizi optimal sejak masa kehamilan hingga usia dini akan menghadapi risiko kesehatan dan keterbatasan perkembangan kognitif di masa depan. Sebaliknya, anak-anak yang tumbuh dengan gizi baik memiliki peluang lebih besar untuk mencapai potensi maksimalnya.
Karena itu, kebijakan pangan harus mencakup edukasi gizi, keamanan pangan, akses air bersih, sanitasi, serta pelayanan kesehatan yang memadai. Gizi bukan sekadar isu kesehatan; ia adalah investasi pembangunan sumber daya manusia.
Lingkungan: Penentu Keberlanjutan Sistem Pangan
Sistem pangan yang kuat tidak akan bertahan tanpa lingkungan yang sehat. Lahan pertanian yang subur, ketersediaan air, keanekaragaman hayati, dan iklim yang stabil adalah modal utama dalam menghasilkan pangan. Namun, perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan alih fungsi lahan menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan pangan di Banten.
Di satu sisi, pembangunan kawasan industri memberikan kontribusi besar terhadap ekonomi daerah. Di sisi lain, tekanan terhadap lahan pertanian semakin meningkat. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan, produktivitas pertanian akan menurun dan ketahanan pangan jangka panjang menjadi rentan.
Pembangunan pertanian tidak lagi cukup mengandalkan intensifikasi produksi.
Banten perlu menerapkan prinsip keberlanjutan: efisiensi penggunaan air, konservasi lahan, pengurangan food loss dan food waste, serta diversifikasi pangan lokal. Lingkungan yang terjaga adalah syarat utama bagi pangan masa depan.
Kolaborasi: Kunci Membangun Sistem Pangan yang Tangguh
Penguatan ketahanan pangan, gizi, dan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Persoalan ini memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan: pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga masyarakat sebagai konsumen.
Perguruan tinggi menghasilkan inovasi dan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Dunia usaha memperkuat rantai pasok pangan melalui investasi yang bertanggung jawab.
Pemerintah menciptakan regulasi yang kondusif dan berorientasi jangka panjang.
Masyarakat menerapkan pola konsumsi sehat dan mendukung pangan lokal.
Sinergi melalui pendekatan pentahelix akan menghasilkan kebijakan yang lebih efektif dibandingkan pendekatan sektoral yang berjalan sendiri-sendiri.
Saatnya Beralih ke Pendekatan Sistem Pangan
Pembangunan ketahanan pangan di masa depan tidak dapat lagi dilakukan secara parsial. Produksi, distribusi, konsumsi, status gizi, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat adalah bagian dari satu sistem yang saling mempengaruhi. Kegagalan pada satu komponen akan berdampak pada komponen lainnya. Karena itu, pendekatan food systems menjadi semakin relevan dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.
RPJMD Provinsi Banten Tahun 2025–2029 telah menempatkan ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pembangunan berkelanjutan sebagai prioritas. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa arah kebijakan tersebut diterjemahkan ke dalam program yang terintegrasi, didukung oleh koordinasi lintas sektor, pendanaan memadai, serta sistem monitoring dan evaluasi berbasis indikator kinerja.
Pada akhirnya, penguatan ketahanan pangan, gizi, dan lingkungan adalah investasi strategis bagi masa depan Banten. Daerah yang mampu menjamin pangan cukup, masyarakat sehat, dan lingkungan lestari akan memiliki daya saing lebih tinggi dalam menghadapi dinamika pembangunan.
Masa depan Banten sesungguhnya dimulai dari meja makan warganya. Dan untuk menjaganya, kita membutuhkan sinergi yang kuat antara pembangunan pangan, gizi, dan lingkungan yang berkelanjutan. (Red)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan