Beritabanten.com — Puluhan orang tua siswa mendatangi Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon pada Kamis (3/7), guna meminta kejelasan terkait gagalnya anak-anak mereka dalam proses Seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru (SPMB) tingkat SMP tahun ajaran 2025.
Sebelumnya, para orang tua ini juga sempat menyampaikan protes serupa ke SMPN 12 Cilegon. Mereka datang dengan membawa spanduk dan poster yang menyuarakan kekecewaan mereka terhadap proses seleksi yang dinilai tidak transparan dan tidak adil.
Menurut mereka, sistem zonasi tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sejumlah anak yang tinggal dekat sekolah justru tidak diterima.
Alkirom, salah satu perwakilan orang tua, mengungkapkan bahwa kondisi ini membuat anak-anak merasa tertekan secara psikologis. “Anak saya menangis terus tiap hari, tidak mau sekolah di tempat lain. Kami harap hari ini bisa ada titik terang. Tambah kelas pun tidak masalah, yang penting anak bisa sekolah di sekolah terdekat,” tuturnya di hadapan pihak Dindikbud.
Ia juga menyoroti pentingnya keberpihakan sekolah negeri kepada warga sekitar. “Warga sudah berkontribusi dalam pembangunan sekolah, tapi kenapa anak mereka malah tidak diterima? Kami minta bukan hanya ditampung, tapi diberikan solusi yang jelas dan nyata,” tegas Alkirom.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dindikbud Kota Cilegon, Suhanda, menyampaikan bahwa pihaknya tengah berupaya mencarikan solusi terbaik tanpa memaksakan daya tampung sekolah yang sudah terbatas.
Dikatakan Suhanda, sekolah seperti SMPN 11 dan SMPN 12 memang memiliki keterbatasan ruang belajar. SMPN 11 saat ini hanya memiliki lima rombongan belajar (rombel), dan SMPN 12 empat rombel. Bahkan SMPN 12 telah menerapkan sistem belajar dua shift (pagi dan siang), namun jumlah ruang kelas tetap belum mencukupi.
“Jumlah lulusan SD mencapai 148 siswa, sedangkan kapasitas di SMPN sekitar hanya 140 kursi. Kami bahkan sudah menambah kuota melebihi standar nasional yang biasanya 32 siswa per kelas, menjadi 40 siswa per kelas. Tapi tetap belum ideal,” ujar Suhanda.
Ia menambahkan, Dindikbud telah menyampaikan permohonan resmi kepada Kementerian Pendidikan untuk penambahan ruang belajar. Rencana perluasan ruang kelas juga sedang disiapkan untuk SMPN 11 dan SMPN 12 guna mengantisipasi lonjakan pendaftar di masa mendatang.
“Kami memahami keresahan para orang tua dan sudah menyampaikan aspirasi ini ke Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Sekda. Kami terus berikhtiar mencari solusi agar semua anak tetap bisa bersekolah,” tambahnya.
Suhanda menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini membutuhkan waktu karena harus melalui proses administrasi dan persetujuan dari pemerintah pusat.
“Kami harap masyarakat tetap percaya bahwa pemerintah tidak tinggal diam dan berupaya memberikan jalan keluar terbaik,” pungkasnya. (Nbl)
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News Beritabanten.com


Tinggalkan Balasan